Pages

This is How...

Kamis, 13 Juli 2017



Bagi saya bagaimana semesta bekerja itu menarik. Dia itu unpredictable. Bisa aja seseorang udah punya target untuk begini begitu dalam hidupnya tapi gak kelaksana dengan baik karena suatu hal yang enggak di duga, bisa juga sebaliknya, targetnya malah terpenuhi lebih cepat karena suatu hal yang enggak diduga. Atau malah, seseorang gak menargetkan apa-apa tapi dapet lebih dari apa yang dia butuhkan.

Jadi saya pernah mau pergi suatu tempat baut ikut kegiatan yang itu butuh banyak biaya. Sehari sebelumnya waktu pengumpulan uang, saya nemuin kalo duit saya ilang. Saya bingung, soalnya gak mungkin saya minta ke orang saya langsung sejumlah yang saya butuhin. Mikirlah saya gimana caranya. Tiba-tiba ibu manggil saya. Beliau baru dapet rejeki dan dibagikanlah rejeki itu kepada anak-anaknya, termasuk saya. Rejeki dari ibu ternyata cukup buat memenuhi biaya saya buat berangkat. Langsung lah saya pake buat biaya berangkat kegiatan. Di situ saya ngerasa semesta ngebantu saya. 

Ada juga cerita lainnya. Waktu seorang bapak, dia baru aja transfer uang. Tiba-tiba aja kartunya ketelan. Di luar udah ada yang nunggu. Beliau pun bilang sama orang itu kalo kartunya ketelan. Orang itu pun ngasih saran, "Coba telepon nomor yang ada di aATM-nya aja, Pak." Di mesin ATM-nya emang ada stiker nomor gitu. Langsung lah beliau telepon nomornya itu. Dia bilang keluhannya dan orang yang dia telepon tanya nomor pin ATM. Karena panik dan stres, dia pun memberitau nomor pin akun banknya ke orang tersebut. Sampai di rumah, dia langsung telepon tetangganya yang kerja di bank tempat dia punya rekening itu. Ceritalah dia. Tetangganya pun bilang kalo bank gak pernah menanyakan nomor pin customer-nya dalam hal apapun. Semakin paniklah bapak itu. Tetangganya pun langsung minta dia buat ngehubungin call center dari banknya. Dia pun cerita hal yang sama. Waktu rekeningnya dicek oleh pihak bank, ternyata dia udah kehilangan 50 juta dari total tabungan yang dia punya. Padahal rencananya dia mau ngelunasin rumah yang baru dia beli dari uang di rekeningnya itu. Dia pun langsung lemes dan minta buat pihak bank segera memblokir rekeningnya.
Jadi ya gitu, kita gak akan pernah bisa ekspektasi apa-apa dari hidup, dari semesta. Menurut saya, punya target itu bagus banget, berarti kamu udah merencanakan hidupmu, punya cita-cita dan harapan itu pun juga baik karena berarti kamu punya suatu hal yang ingin kamu capai, which is berarti kamu punya tujuan. Tapi jangan pernah merasa kesel dan marah kalo ternyata hal-hal itu gak tercapai sesuai yang kamu ekspektasikan. Jangan pernah berhenti juga, apalagi kalo punya cita-cita dan harapan--karena tujuan itu dimulai dari sini. Sadari, semesta itu gak bisa diduga, dia bisa aja punya rencana lain. Tapi lewat rencana-rencana itu, semesta ngajarin seseorang untuk belajar, untuk jadi the better version of us buat dikemudian hari. 

Inget, Kita Bukan Peter Pan!

Selasa, 07 Februari 2017

Akhir-akhir ini, saya makin menyadari kalo sebenernya setiap orang itu hidup di balik ketakutan-ketakutan yang dia punya. Kenapa saya bisa berpikir demikian? Kesimpulan itu saya dapet setelah saya mem-posting sebuah foto di akun instagram saya. Di kolom caption, saya menulis seperti ini: 

Baru menyadari, bahwa semakin tua, semakin banyak ketakutan-ketakutan yang akhirnya harus dihadapi. Semakin banyak pertimbangan-pertimbangan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, yang harus dipikirkan supaya gak salah langkah. Kadang, walaupun udah dipikir dengan matang, bisa aja terjadi sesuatu yang gak diinginkan. Mungkin itu alasan kenapa Peter Pan gak mau tumbuh dewasa, hmm..

Sedikit dari teman saya berkomentar, "so trueee", " true true true", "Rt rt rt rt!!!!!", "Bahkan....setelah mikir ketakutan itu, perutku literally mules."

Saya termasuk orang yang merasakan hal tersebut. Saya pun menyadari ketakutan saya tersebut. Ketakutan yang sebenernya gak perlu ditakutin tapi bener-bener membuat saya merasa anxious. Bahkan saya sampai pernah merasa panas-dingin ketika sedang mengalaminya.


Ada satu hal yang menarik perhatian saya pagi tadi. Jadi, saya baru saja menemukan sebuah akun, namanya @proud.project di instagram. Postingan akun tersebut merupakan foto dari orang-orang yang cukup terkenal dengan caption jawaban mereka ketika ditanya suatu hal. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah postingan mengenai Oka Mahendra, CEO Takis. Caption dari




Membaca caption tersebut membuat saya sadar bahwa setiap harinya orang-orang selalu struggle to handle their own problem dan juga berusaha keras buat menutupi hal tersebut dari orang lain, bahkan dari orang yang paling dekat dengan dia. Gak dipungkiri, saya sering banget ngelakuin hal yang sama. Gak tau kenapa, tapi berusaha buat nutupin itu semua dan merasa nothing happen emang salah satu cara 'pelarian' yang otomatis saya lakukan. Walaupun kalo udah gak bisa nahan, saya tetep bakalan nangis hehehe.

Kembali berbicara tentang ketakutan, saya jadi ingat waktu saya ikut jadi partisipan praktikum tes psikologi mahasiswa S2 di fakultas saya. Ya biasa, saya diminta untuk mengerjakan tes-tes psikologi, khususnya tes inteligensi dan tes kepribadian. Waktu tes kepribadian, ada sesi wawancara. Sesi wawancara ini dipake buat gali lebih jauh lagi jawaban saya waktu ngisi tes kepribadian.

Saya lupa apa pertanyaan si Mas ke saya, tapi yang pasti itu berhubungan dengan pilihan jurusan saya waktu mau masuk kuliah yang membuat saya sempat stres. Pertanyaan si Mas pokoknya saya jawab, "Karena saya takut ngecewain...." Si Mas pun balik lagi tanya, "Kenapa harus takut?" Ketika ditanya seperti itu, saya cuma diem. Saya mikir, "Iya, ya? Kenapa harus takut?". Si Mas pun ngelanjutin lagi omongannya, " Lagian masih bisa usaha kan? Terus akhirnya berhasil kan?" Sampai sekarang, pertanyaan si Mas masih terus terngian-ngiang dalam pikiran saya.

Saya yakin, setiap harinya orang-orang selalu berusaha untuk meng-handle masalah-masalah yang terjadi dalam hidupnya. Entah itu masalah yang berhubungan dengan orang lain, maupun dirinya sendiri. Dan memang, gak semua masalah maupun ketakutan-ketakutan tersebut bisa kita selesaikan dengan mudah. Kadang kita memilih buat ngelupain, lari dari masalah tersebut, walaupun pada akhirnya kita tetep bakalan kepikiran lagi dan lagi dan lagi. Tapi, menurut saya, yang terpenting dari itu semua kita tetap sadar kalo kita punya masalah, punya ketakutan. Kita emang gak bakal bisa lari dari masalah dan ketakutan kita, tapi kita bisa belajar lewat hal-hal tersebut buat jadi lebih baik ke depannya. Inget, kita bukan Peter Pan! :)

Bapak dan Bintang

Selasa, 27 Desember 2016

Bapak dan Bintang

Saya gak tau, tapi saya ingin sekali menuliskan jurnal tentang kedua lelaki yang paling banyak berinteraksi dalam kehidupan saya. Bapak dan Bintang, adik lelaki saya satu-satunya.


Keinginan menulis tentang keduanya muncul karena saya melihat sebuah potret mereka yang saya ambil saat kami sekeluarga sedang main ke Pantai Goa Cemara. Foto yang memperlihatkan Bapak dan Bintang yang sedang duduk bersama di atas gardu yang terletak di pinggir bibir pantai. Keduanya sama-sama melihat ke arah pantai.


Saya gak tau apa yang mungkin dipikirkan oleh Bapak dan Bintang pada saat momen tersebut. Namun, saya senang ketika melihatnya lagi. Sudah lama rasanya tidak melihat keduanya bersama-sama dalam satu frame foto. Sebenarnya, itu karena kami juga jarang berfoto bersama sih hehehe. Selain itu, Bintang juga udah mulai malu jika difoto maupun diminta foto bersama. Jadi saya suka ngambil potret dia diam-diam hehehe. Tapi saya lebih suka ngambil potret orang kayak gitu sih, lebih terasa ‘asli’ dan ‘apa adanya’  hehehe.





Foto aja yang mau saya posting. Besok saya mau cerita tentang Bintang di postingan lainnya hehehe.

2016

Rabu, 21 Desember 2016


2016 merupakan tahun di mana saya belajar banyak hal, baik melalui teman-teman dekat saya, kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, maupun orang-orang baru yang saya temui. Banyak hal-hal di tahun ini yang mengubah cara pandang saya, membuat saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan selama ini perlu diperbaiki. Bukan diubah, tapi diperbaiki.


Sebenarnya, pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan di tahun ini telat saya sadari. Saya baru benar-benar menyadarinya ketika saya akan memasuki semester tiga saya kuliah. Mei 2016. Saya memutuskan untuk menjadi pemandu di acara PPSMB Halo PRK 2016. Pengalaman baru yang membuat saya sadar bahwa saya hanya cukup menjadi diri saya sendiri. Sejak itu saya belajar untuk memahami diri saya apa adanya.


Pengalaman baru lainnya ketika saya memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu bersama-sama teman dari PALAPSI UGM, pengalaman yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan untuk ikut di dalamnya, meskipun tidak seaktif yang lain hehehe. Keputusan yang memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Saya belajar bagaimana profesionalitas dibentuk, belajar mengerti dan memahami sesama, belajar mengutarakan apa yang memang saya rasakan secara asertif, dan belajar bagaimana bersama-sama bekerja menjadi sebuah keluarga.


Tahun ini juga, saya diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat di REPSIGAMA dalam acara Diklat 2016. Saya belajar banyak dari PANTI di acara tersebut, Yuman, Asfira, Rara. Terima kasih untuk pengalaman mengasyikan pada masa pra, during, dan pasca diklat hehehe.


Tuhan juga dengan baiknya mempertemukan saya dengan kedua teman dekat saya di tahun ini. Firyal dan Elok. Dua orang yang membuat saya sadar dan belajar. Dari Firyal, saya belajar untuk menjadi dewasa dan tangguh. Dari Elok, saya belajar menerima dan menjadi diri saya. Dua orang yang selalu berusaha ada. Dua orang yang selalu menjadi tempat menghabiskan waktu meski tau ada laporan yang harus segera dikerjakan. Dari mereka saya belajar untuk yakin pada diri saya, bahwa saya harus mempercayai bahwa saya mampu, dan percaya bahwa menjadi diri sendiri adalah cara terbaik.

Saya tidak pernah merasa sebahagia ini mengakhiri sebuah tahun. Bahagia yang membuat saya sadar dan mampu memaknai sebagian perjalanan selama duabelas bulan ini. 2016 membuat saya semakin bersyukur. 2016 membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat yang membuka pikiran-pikiran baru, membuka pikiran-pikiran yang selama ini tertahan dalam benak saya. 2016 :)

#MariMelongok: Pilihan dan Batasan?

Minggu, 11 Desember 2016



Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini. Banyak hal yang kita senangi di dunia ini. Tapi, apakah semua bisa memenuhi?

Kemarin sore mengobrolkan hal-hal sedikit berat dengan salah satu kakak tingkat sehabis pulang dare menonton film dokumenter di FFD Jogja 2016. Obrolan menarik tentang pilihan dalam hidup yang terkadang memang dibatasi oleh batas-batas. Gender, fashion, kesenangan.: mengapa wanita tidak boleh begini dan seharusnya begitu, mengapa orang berhiijab dalam berpakaian mempunyai batasan, dan mengapa apa yang kita senangi belum tentu bisa kita jadikan pilihan utama. Pembicaraan itu berakhir pada satu kesimpulan bahwa tidak semua yang kita senangi bisa kita jadikan pilih utama. Ada batas-batas tertentu yang membuat kita tidak bisa membuatnya menjadi demikian. Ada nilai-nilai, norma-nomra, dan akibat-akibat tertentu yang membuat kita kemudian berpikir ulang untuk memilih dan melakukan hal tersebut.

Mungkin tidak semua orang akan berpikir demikian. Banyak juga orang-orang yang berani untuk mengambil risiko dari setiap hal yang dia pilih. Saya senang melihat orang-orang seperti itu. Saya tidak iri. Saya malah belajar banyak dari orang-orang yang mampu melebihi batas di masyarakat dengan tetap menunjukkan keberhasilannya.

Pada akhirnya semua orang mempunyai pilihannya masing-masing dalam hidup. Kita tidak pernah bisa menunjukkan mana yang baik dan buruk untuk dia. Hukum, batasan-batasan dalam agama, memang kita jadikan sebagai acuan. Tapi yang memilliki hak untuk memilih tetaplah kita, Meski terkadang semesta dan Tuhan berkata lain, itu urusan nanti. Mungkin kamu tetap diingatkan bahwa jalanmu memang bukan di situ. Bukan pilihanmu yang salah, tetapi memang begitu adanya.

Teringat salah satu cerita teman yang ingin mengulang ujian masuk perguruan tinggi di jurusan lain. Dia sudah membayar, sudah mendaftar. Tapi saat hari daftar ulang, ia lupa sehingga ia tidak bisa mengikuti ujian masuk tersebut. Satu kata yang saya ingat dari dia, “Ya berarti memang bukan jalannya. Ya berarti emang jalanku di Psikologi."

Cerita lain, seperti film yang kemarin saya tonton, Roshmia, bercerita tentang suami-isteri Palestina yang melawan pemerintahan Israel dengan tetap bertahan hidup di rumah reyotnya yang bertempat di bawah jalan yang sedang dibangun oleh pemerintahan Israel, di Roshmia. Banyak konflik yang timbul dari kehidupan mereka selama proses penggusuran, dari anaknya yang meminta untuk pindah, suami yang ingin tetap bertahan di sana, dan isteri yang akhirnya menginginkan untuk pindah juga. Film tersebut kemudian berakhir dengan keputusan mereka untuk pindah, pergi dari rumah tersebut. Meski sang suami tetap tidak rela. Bahkan ia menyumpahserapahi pemerintah yang membongkar rumah mereka.

Memilih apa yang kita sukai memang berhak kita lakukan. Tapi ketika kamu sudah memilih hal tersebut, jangan pernah menyesal.  Nikmati prosesnya sembari kamu melakukan hal yang memang benar-benar kamu sukai. Mungkin saja kamu bisa menemukan ide baru yang bisa menggabungkan apa yang kamu sukai dan kamu pilih.

Ketika kamu memilih untuk bertahan dengan apa yang kamu inginkan dan memutuskan untuk mengejarnya, jangan lupa untuk berisitrahat sejenak, melongok, melihat sekitar. Jangan memaksa diri untuk terus berlari. Karena itulah risikonya. Nikamti risiko tersebut sembari melihat hal lain yang bisa kamu lakukan, yang mungkin bisa membawa kamu perlahan pada keinginanmu. Toh, kamu tidak pernah tahu rencana Tuhan. J


#MariMelongok: Perbedaan

Minggu, 17 Juli 2016



Manusia itu rumit, menurut saya. Kenapa? Karena manusia itu punya cara pandang yang berbeda. Kita hidup dengan pikiran kita masing-masing, yang dibentuk juga dari pengalaman hidup kita masing-masing. Contohnya, ketika kita mikir kalau hal A itu benar, orang lain belum tentu sependapat dan lebih memilih hal B, ketika kita berperilaku demikian yang menurut kita paling baik, orang lain belum tentu demikian. Pikiran-pikiran kita tersebut yang kemudian akan membentuk pola pikir dan sikap kita dalam menghadapi suatu masalah. Analoginya bisa dengan foto di atas yang mana perilaku orang-orang tersebut menggambarkan apa yang sedang mereka pikirkan.

Memang gak semua pikiran-pikiran kita dibentuk oleh diri kita sendiri. Kadang beberapa dari pikiran tersebut juga dipengaruhi oleh pikiran orang lain yang kita kagumi dan kita anggap benar. Tapi tetap, menurut saya, pikiran-pikiran yang kita anggap benar itu pada akhirnya juga akan berkembang sejalan dengan pengalaman-pengalaman hidup kita.

Perbedaan dalam cara pandang kadang yang membuat manusia itu berkonflik. Terkadang konflik tersebut membuat kita merasa jadi yang paling benar. Kita ingin dipahami, tapi susah memahami pikiran orang lain, yang akhirnya berujung pada perpecahan. Kadang kita lupa buat melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain yang bersangkutan, bahwa mungkin kondisi dia memang sedang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, bahwa apa yang dia alami dalam masalah tersebut berbeda dengan apa yang kita alami. Akhirnya pun berujung pada kebencian dan caci maki.

Saya jadi teringat ucapan salah satu dosen saya di mata kuliah Filsafat--saya bukan mahasiswa Filsafat, tapi subjek yang saya ambil mempelajari mengenai falsafah manusia. Beliau mengatakan bahwa dalam lingkungan orang-orang Filsafat sering sekali terjadi perdebatan dalam memahami suatu peristiwa. Meski begitu, perbedaan pemahaman tersebut tidak membuat mereka saling membenci karena memang tidak ada yang benar dan yang salah dalam memahami suatu peristiwa, yang terpenting adalah bahwa kita paham dan yakin atas apa yang kita anggap benar dan mampu memberikan alasan yang masuk akal atas pikiran kita tersebut. Sayangnya, hal tersebut gak selalu bisa kita terapkan dalam hidup. Banyak dari kita, bahkan saya sendiri, masih berpikir bahwa orang lain harus selalu berpendapat sama dengan kita. Padahal ya setiap orang memiliki persepsinya masing-masing. Bahwa apa yang kita anggap objektif belum tentu objektif bagi orang lain.

Meski begitu, gak semua hal juga yang diawali dengan perbedaan selalu berujung pada kebencian. Contohnya saja acara Stand Up Comedy. Menurut saya acara tersebut merupakan salah satu jenis acara yang mampu membuat kita bisa melihat suatu hal dari sudut pandang lain untuk kemudian bisa kita tertawakan. Kadang ucapan-ucapan dari para komika--orang yang melakukan stand up comedy--membuat kita jadi lebih merefleksikan kejadian-kejadian yang mereka sentil, yang munkin pernah atau sedang terjadi di sekitar kita. Sebenarnya bahagia juga menertawakan kebodohan sendiri hahaha..

Jadi sebenernya apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa sebenernya perbedaan dalam hidup itu merupakan hal yang lumrah. Semua orang pasti mempunyai persepsi dan sikap yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu peristiwa. Bahwa perbedaan itu enggak perlu dipermasalahkan. Bahwa, ya , manusia itu memang hidup dengan pikiran mereka masing-masing. Kalaupun muncul perbedaan cara pandang dalam menanggapi masalah yang itu bersangkutan dengan orang lain, coba deh berdiskusi, ngobrol, srawungan, tentang hal-hal yang baiknya dilakukan bersama. Ambil jalan tengah yang paling baik, yang paling bisa dilakukan oleh kedua belah pihak. Kalaupun berujung pada kebuntuan, istirahat dulu dan pikirkan lagi ketika pikiran sedang jernih. Keputusan yang diambil ketika sedang marah itu gak baik lho, hehehe..

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Saya pun menulis ini juga dalam rangka introspeksi dan mengubah diri menjadi lebih baik. Jika mungkin muncul ketidaksenangan dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Sekian dari saya. Selamat menikmati hidup yang penuh rasa!


#MariMelongok: "Patah hati itu untuk buat kamu jadi lebih kuat."

Selasa, 12 Juli 2016




Orang yang mengalami patah hati akan berubah, begitu bunyi salah satu kalimat dalam salah satu subbab di novel Koala Kumal karya Raditya Dika. Perubahan itu bisa berupa apa saja, dari cara pandang dia terhadap pemulaian suatu hubungan selanjutnya dengan orang lain, terhadap cara dia menanggapi segala hubungan yang sedang dia jalani, bahkan keputusan-keputusan yang menuntut tanggung jawab pada perasaannya maupun orang lain. Dan hal tersebut merupakan salah satu tanda bahwa setiap orang berkembang dan berubah. Human is dinamic.


Ada cerita hari ini dari salah satu teman karib. Dia bercerita bahwa semenjak dia merasa dicampakan oleh salah satu "teman", dia tidak bisa dengan mudah membuka hatinya untuk orang lain lagi. Saya pun menimpali bahwa saya pernah merasakan hal yang sama, hanya saja dengan ksiah yang sedikit berbeda. Jujur, saya masih mengalami masalah tersebut. Menyedihkan memang.


Bisakah kita mengatakan bahwa sikap tersebut berlebihan? Ya, bisa saja. Tapi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa seseorang tersebut melebih-lebihkan segala hal yang dia rasakan dan alami. Saya yakin setiap orang memiliki cara untuk menyikapi segala masalah dalam hidupnya, dan bisa jadi itu cara dia untuk menghadapi masalahnya--termasuk saya. Hanya saja kita memang tidak boleh membelenggu diri kita terus-menerus dalam perasaan tersebut, bahwa kita juga harus kembali meyakinkan pada diri kita jika menutup hati terlalu lama bukanlah hal yang baik. Ada waktunya untuk kembali terbuka dengan apa pun yang terjadi dalam hidup, merasakan segala kesenangan maupun kesedihan yang terjadi dalam kejadian-kejadian yang ada. Saya juga akan berusaha.

Lalu apa hubungan antara patah hati dengan foto yang saya pakai? Saya menganalogikan patah hati seperti bunga yang mengering. Awalnya bunga tersebut cerah dan masih segar, sama seperti orang yang baru saja bertemu hal yang membuat hatinya berderu-deru. Lama-kelamaan dia mengering, sama seperti orang ketika patah hati dan sedang dalam proses mengobati perasaannya. Ketika mereka sudah merasa baikan, bisa saja mereka tetap seperti bunga yang kering, yang berarti mereka sudah baikan tetapi mengungkung diri mereka dengan rasa takut, atau kembali baru dengan menjadi bunga baru yang lebih segar.

Saya kutip salah satu kalimat dari film Koala Kumal yang baru saja tadi saya tonton,
"Patah hati itu untuk buat kamu jadi lebih kuat."
Selamat menikmati perasaan-perasaan dalam hidup!

throwback

Minggu, 24 Agustus 2014




I've never known before that the thing which is a simple one, always has its own special side. Sometimes, we would never realize it if we haven't through it before yet. We already realized when it was gone. And we want to throwback, to that time, when the every single time-laugh-tears-togetherness is just being a memory. Yes, itself.



Cerita Hari Ini

Jumat, 15 Agustus 2014


Aktivitas pelan-pelan seperti membelenggu manusia dalam dunianya.
Itu sepenggal kutipan yang tiba-tiba menclok di otak saya. Bukan, itu bukan tentang kritikan keras saya terhadap orang-orang yang penuh kegiatan karena saya sebenarnya merupakan salah satu dari sekian orang yang dibelenggu oleh aktivitas.

Berbicara tentang dibelenggu-aktivitas, saya punya cerita pagi ini, saat saya akan berangkat ke sekolah. Pagi hari ini, saya diantar sekolah oleh Amo--orang yang sudah bekerja di rumah kami selama hampir 14 tahun, dan sudah saya anggap sebagai keluarga. Bapak sedang tidak di rumah, ada pekerjaan di luar kota. Anak laki-laki Amo, Ipin, yang baru duduk di bangku sekolah dasar (SD), akan berangkat ke sekolah juga dengan mengendarai sepeda. Kebetulan sekolahnya dekat dengan rumah saya. Sebelum saya berangkat sekolah, saya senang menggoda Ipin. Saat saya akan menaiki motor, saya melihat di dahi sebelah kananya terdapat luka. Lalu saya bertanya, "Kamu luka to, Pin?"
Amo pun menjawab, "Kemarin nyelungsep di semak-semak."
Lalu kami pun berangkat sekolah.

Di jalan, saya bertanya lagi pada Amo kenapa bisa sampai nelungsep di semak-semak. Amo pun menjawab kalau kemarin saat akan pulang, mereka ingin menghindari kakek-kakek tua yang membawa rumput gajah untuk pakan sapi. Tapi setiap kali mereka belok ke kiri atau ke kanan, kakek tua itu selalu bergeser ke arah yang sama pula. Akibatnya, ban motor mereka tersaduk batu, dan jatuh di semak-semak dekat sawah. Kata Amo kejadian itu sudah terjadi seminggu yang lalu. Saya jadi mikir, apa yang saya lakukan selama seminggu ya sampai saya baru tahu kejadian itu hari ini, lalu saya ingat-ingat lagi kegiatan saya selama seminggu kemarin. Seminggu kemairn memang saya selalu pulang sore sih. Paling cepat saya pulang pukul 4 sore. Sampai rumah biasanya sudah pukul 5 atau setengah 6 kurang, dan pukul segitu Amo sudah pulang. Lalu saya berpikir, "Sebegitu sibuknya kah saya, sampai-sampai saya jadi kudet dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah?" 


Sejak duduk di bangku SMA, saya memang cukup mengikuti banyak kegiatan, dan kegiatan-kegiatan itu memang sedikit menyita waktu istirahat maupun bermain saya dengan keluarga. Tapi di satu sisi memang ada kesenangan sendiri ketika saya sudah mulai mengurusi atau mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, dan belum pernah terpikirkan di benak saya mengenai ke-apatisan-saya di rumah sampai hari ini.


Entah kenapa hal itu sedikit mengusik saya. Saya tahu itu hal sepele dan mungkin belum tentu berguna jika dipikirkan. Tapi entah kenapa, menurut saya, hal itu harus sedikit dipikirkan. Karena jika tidak, kita bisa saja tidak mengenali keluarga kita lagi, tidak peka dengan lingkungan keluarga dan rumah kita, serta egois secara-tidak-sadar dengan lingkunagan kita. Padahal tujuan kita mengikuti kegiatan di sekolah mungkin untuk meningkatkan jiwa sosial kita. Tapi jatuhnya jiwa sosial kita di lingkungan keluarga jadi berkurang. Sedikit salah memang, tapi hal itu memang terasa sedikit dilematis; kamu punya tanggung jawab atas apa yang sudah kamu ikuti, tapi juga punya tanggung jawab di rumah sebagai anak. Pada akhiirnya, kita memang harus tetap mengatur porsi waktu untuk kegiatan yang kita ikuti dan porsi waktu untuk keluarga. Dan itu semua butuh belajar, tidak didapat secara instan. Yang harus kita lakukan adalah menikmati proses belajar itu.



H+4





Gak kepikiran bakal dapet kejutan kayak gini walaupun udah H+4, dan gak kumpul semua. Makasih banyak anak-anak PD. Sayang kalian :")

Cerita yang Tertunda

Halo!
Besok sudah lebaran. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin :)

Hari terakhir bulan ramadhan di tahun ini. Semoga tahun depan bisa ketemu lagi, aamiin.

Jadi, aku mau cerita tentang sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Ini tentang host-fam-ku waktu aku lagi sister school di Aussie. Udah hampir genap satu tahun haha :"D

Rumah mereka emang gak terlalu besar, tapi juga enggak terlalu kecil. Ukurannya samalah sama kayak rumahku di sini. Tapi yang membuat aku senang tinggal di sana adalah kehangatan keluarga tersebut. Host-fam-ku ini, alhamdulillah, orang Indonesia; ibunya indonesia; ayahnya Australia. Dan ayahnya bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Mereka welcome banget sama aku. Tapi emang dasarnya aku pendiem dan pemalu kalo sama orang baru, jadinya gak terlalu banyak omong hehehe.

Ibunya host-ku ini seneng banget kalo ada orang Indonesia dateng ke rumahnya. Jadi, hari kedua aku tinggal di sana ada orang Indonesia berkunjung ke rumahnya. Mereka adalah buruh-buruh kapal pabrik tepung Segitiga Biru. Tapi mentang-mentang mereka buruh, jangan dibayangin tampilan mereka kayak buruh-buruh di film-film gitu. Tampilan mereka ya biasa aja. Malah bisa dibilang keren gitu pake gitu sweater (bayangin kakeknya Charlie yang ada di film Charlie and The Chocolate Factory).
Ibunya host-ku ini keliatan seneng banget, udah kayak ketemu sanak saudara sendiri gitu. Tapi aku tau kok rasanya tinggal di perantauan yang kultur budayanya jelas beda banget sama kita, dan ketika ketemu sama orang yang asalnya sama kayak kita dengan kultur budaya yang sama itu rasanya ngelebihin rasa seneng sama sesuatu.
Beliau ngobrol dengan asyiknya dan nada bicaranya bener-bener ngeliatin kalo beliau seneng. Aku juga seneng sih, karena bisa ketemu sama Indonesian people. Rumah juga jadi rame gitu. Waktu mereka udah pulang, ibunya host-ku cerita tentang mereka dan beliau bilang sesuatu yang itu bener-bener masih aku inget sampai sekarang, "Zaman sekarang kan jarang banget orang 'punya' mau bantu dan nyampur sama orang 'kecil' kayak mereka." Dan saat itu aku berpikir, beruntung banget aku dapet host-fam kayak mereka.

Ayahnya host-ku juga baik. Dia gak marah gitu waktu ada kejadian lolog yang aku perbuat gara-gara kecerobohanku. Dia cuma bilang ke aku kalo mau pake keran bukanya gak usah lebar-lebar, dan aku ingat, aku cuma cengengesan waktu itu hehe. 

Aku setuju sih kalo kita sebagai orang Indonesia seharusnya mengikuti kultur orang barat, the positive one certainly. Misal ya kayak sifat pekerja keras mereka. Kalo ditelah lebih jauh sih sifat pekerja keras mereka tumbuh ya karena keadaan. Biaya hidup mereka di sana tinggi banget. Bahkan pekerja bangunan kebanyakan, malah kayaknya semuanya, itu kerja sendiri. They don't have partners who help them to build house together. Ayahnya host-ku pernah cerita waktu itu, tukang ledeng di sana satu jamnya dapet bayaran $60 Aus. Kalo dijadiin rupiah ya kira-kira 600ribu lebih lah. Bayangin aja kalo kamu kerja di sana dan pulang ke Indonesia tiap bulan, mungkin kamu udah bisa menenuhi kebutuhanmu di Indonesia lebih dari cukup.
Mereka juga orang-orang yang corious. Rasa pingin tau mereka mengenai suatu hal itu tinggi. Kayak semisal ketika kita ngomong bahasa Indonesia dan mereka belum tau artinya dan maksudnya apa. They ask it, remember it and try to use that word everytime they talk in bahasa. Sempat ada rasa haru ketika bahasa ibu kita dipelajari sama orang asing :')
Mereka juga mandiri banget. Ayahnya host-ku cerita dia udah keluar dari rumah sejak dia umur 15 tahun itu dan itu lazim di sana. Bahkan anak-anak remaja umur 15 tahun ke atas pasti udah kerja part-time, dan menurutku itu 'wow' banget.
Dan sejujurnya masih banyak yang aku mau ceritain dan aku kagumin dari mereka. Tapi kayaknya sekian dulu deh. Jadi, selamat hari raya Idul Fitri 1435 H!




Beda

Senin, 11 Agustus 2014




Perbedaan sebenernya apa to?

perbedaanper.be.da.an
[n] (1) beda; selisih: perpecahan terjadi krn -- paham; (2) perihal yg berbeda; perihal yg membuat berbeda: -- perlakuan thd tamu menyalahi aturan rumah penginapan itu


Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/perbedaan#ixzz3A86Y6kRP

Jadi saya mau membicarakan mengenai perbedaan. Nah, di kbbi dituliskan bahwa salah satu arti dari perbedaan itu perihal yang berbeda. Menurut saya, perihal yang berbeda ini bisa mengakibatkan 2 hal: perpecahan sama motivasi. Semua orang pasti udah tau kalo perbedaan itu bisa membuat perpecahan dan itu udah umum banget. Tapi kalo motivasi, mungkin gak semua orang pernah mikir sampai situ. Mungkin lho ya, mungkin.

Kenapa saya bisa mikir kalo perbedaan itu bisa dibuat motivasi? Karena saya pikir perbedaan itu bisa memotivasi kita buat jadi lebih baik. Jadi saya punya cerita dimana saya ikut ekstrakulikuler (ekskul) di sekolah. Dari ekskul itu kita semacam jadi punya relasi gitu sama siswa sekolah lain yang ikut ekskul yang sama di sekolahnya, karena guru kita yang sama. Murid di sekolah saya sama sekolah itu jelas banget perbedaan. Gak cuma dari muridnya sih, kualitas sekolahnya juga beda. I mean, kualitas sekolah mereka emang lebih unggul dibanding sekolah saya. Nah dari sini perbedaan itu udah keliatan.

Kadang, beberapa kali, saya sama temen saya yang di ekskul itu emang lebih tua dibanding anggota lainnya ngomong, "Itu lho anak-anaknya pada rajin, pada apa blablabla.." Terus anggota yang lain itu jawab, "Ya gak usah dibanding-bandingin gitu, mbak."
OK, untuk mengklarifikasi, maksud kami dalam pembicaraan itu kami gak maksud banding-bandingin. Tapi jujur, itu emang terkesan banding-bandingin sih hehehe. Padahal sebenernya maksud kami di situ buat memotivasi mereka. Karena kami tahu, murid sekolah kami gak bisa dibandingin sama murid sekolah mereka yang anak-anaknya emang udah kayak 'wow'. Pelatih kami pun juga ngomong hal yang sama, "Ngapain dibanding-bandingin, kenyataannya aja udah beda."

Jadi menurut saya, perbedaan itu memang perlu ada. Tanpa perbedaan hidup tidak akan terasa manis-guruh-asam-nya. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan itu sendiri.


"The Worst Enemy to Creativity is Self Doubt."

Jumat, 18 Juli 2014


 (Sumber: Google)


Sore tadi, ketika saya dijemput ibu, saya tiba-tiba teringat omongan teman saya tadi siang waktu mau nyebrang jalan. Sederhana memang, tapi gak tau kenapa sedikit mengusik saya sore ini.
"Nyebrang aja kamu ragu, apalagi milih pacar, Nis."
Dalam hati saya ngomong, "Asem hahaha.."  Tapi apa yang diomongin temen saya itu ada benernya juga sih. Bukan masalah pacarnya, BUKAAAN! Tapi masalah ragunya. Maksud saya, kita gak mungkin ragu-ragu dalam jalanin hidup ini kan? Ya coba aja dilihat kalo kita ragu sama pilihan-pilihan dalam hidup kita, kagolnya gak bakal habis-habis. Dan saya akui, kadang saya sering ragu sama pilihan-pilihan dalam hidup saya. Hal yang paling sepele misalnya, ketika saya harus milih baju. Saya kadang suka ragu sama apa yang sebaiknya saya pakai. Oke ini alay banget, tapi this it true and this is sad. Contoh lainnya, ketika saya mulai ragu buat ngejalanin ekskul yang saya ikuti. Padahal udah saya jalani cukup lama dan cukup menyita banyak waktu saya. Di saat itu saya galau antara mau lanjut tau berhenti. Tapi kalo berhenti apa gunanya perjuangan saya selama ini sampai saya bela-belain buat jarang main bareng sama keluarga saya, khususnya kalau hari minggu. Akhirnya saya tetep lanjut dan yang saya dapat sekarang dari ekskul tersebut bener-bener ngubah saya yang pemalu jadi orang yang lebih berani dalam banyak hal. Temen-temen di ekskul tersebut bener-bener ngubah saya banget, dan itu yang paling membuat saya bersyukur. Saya gak pernah menyesal pada pilihan saya itu!

Jadi, saya pikir, ragu-ragu dalam hidup itu gak seratus persen baik, dan emang gak baik kalau dibiarin terus-menerus. Kalau dianalogikan, pilihan-pilihan dalam hidup itu udah kayak kalau kita milih jalan pulang ke rumah karena ada cegatan. Sepintar-pintarnya kita milih jalan (yang menurut kita paling aman), belum tentu jalan itu bebas tanpa hambatan, pasti tetep ada halangannya, entah jalannya yang jelek, macet, dll. Tapi dibalik semua halangan itu pasti kita bakal nemu jalan yang lebih baik lagi, lebih halus dan gak macet. Nah, itu sama kayak pilihan-pilihan dalam hidup kita. Sepintar-pintarnya kita milih pilihan dalam hidup yang menurut kita baik, pasti dalam pilihan yang kita pilih itu tetep ada halangannya, entah apa pun itu. Tapi menurutku kita gak usah menyesali apa yang udah kita pilih itu. Jalani apa yang udah kita pilih, syukuri dan ambil sisi positifnya, serta berdoa sama yang Maha Kuasa, insyaAllah Dia bakalan selalu ngelindungin dan ngasih kita kekuatan kok buat ngehadepin semua halangan itu. Quote you won't never know until you try it itu ada benernya kok. Jadi jangan sering-sering ragu! Mulai dari sekarang kita harus yakin sama apa yang kita pilih. Waktu gak bakal nungguin keragu-raguanmu ;)

"There is nothing more dreadful than the habit of doubt. Doubt separates people. It is a poison of disintegrates friendships and breaks up pleasant relations. It is a thorn that irritates and hurts; it is a sword that kills."-- Buddha

Surat untuk Bapak Nomor Urut 1

Minggu, 13 Juli 2014

Selamat malam, Pak!
Semoga bapak selalu dalam keadaan baik.

Saya yakin Bapak adalah orang yang baik. Bagaimana saya bisa menyimpulkan itu? Jawaban saya klise. Setiap orang dilahirkan untuk menjadi orang baik, hanya terkadang kebaikan itu sedikit tertutupi dengan keinginan, ambisi dan tekanan dari orang-orang di sekitar kita, serta sejarah hidup setiap manusia yang memiliki latar belakang yang berbeda. Pilihan kita hanya dua, ingin tetap melanjutkan apa yang telah kita jalani dan mendarah daging meski itu buruk atau berubah menjadi lebih baik dan meyakinkan orang lain atas perubahan diri kita sehingga sejarah itu bisa sedikit terhapuskan?

Sekali lagi, saya yakin Bapak adalah orang baik.

Salam hangat,
Annisa.

Jumat, 11 Juli 2014


And thank you for tonight because I found another happiness of my life :)

Bapak

Selasa, 27 Mei 2014



Bapak. Itu foto bapak waktu beliau masih muda. Saya kurang tau umur berapa saat itu beliau. Yang saya tahu bapak belum seperti sekarang.

Bapak banyak menginspirasi saya dalam berpikir dan melakukan sesuatu. Walaupun dalam beberapa hal saya tidak begitu menyukainya. Mama sering menyamakan saya dan bapak dalam beberapa hal, dan saya juga meyakini itu.

Bapak adalah pekerja keras. Sifat ini, menurut saya, didasari dari masa kecil beliau. Bapak merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Meski ayahnya pedagang dan merupakan carik pada saat itu, tapi tidak semua hal dapat dicukupi. Banyak mulut dan permintaan yang harus dipenuhi pada zaman beliau kecil.

Beliau juga merupakan orang yang optimis, tapi juga realistik. Saya pernah dimarahi beliau karena bertanya mengenai hal yang menurut beliau sangat pesimistik, dan menurut beliau itu bukan merupakan pertanyaan yang perlu dijawab. Karena seharusnya saya sudah tahu jawabannya.

Bapak juga mengajarkan saya dan adik saya untuk menjadi orang yang mandiri. Bapak membolehkan saya mengikuti banyak hal, asal itu berguna dan bisa menjadikan saya menjadi lebih baik. Tapi banyak hal dan konsekuensi yang harus saya bayar setelahnya. Dan bapak mengajari saya untuk bertanggungjawab atas itu semua.

Meski banyak hal positif yang beliau ajarkan, kadang juga ada beberapa hal yang terasa menyebalkan. Contohnya, ketika beliau melarang saya bermain telepon genggam saat makan dan beliau melakukan hal yang beliau larang. Itu terasa seperti...bdkkdkdnakks. Tapi bapak tetaplah bapak, dan bapak jugalah manusia. Dibalik wajah beliau yang galak dan tegas, terkadang terdapat hati yang lembut. Meski terkadang menyebalkan tapi beliau merupakan orang yang 'cukup' humoris.

Dan begitulah bapak,dengan semangat dan cerita-ceritanya yang selalu memberi harapan untuk menjadi lebih baik.

Patah Hati

Jumat, 02 Mei 2014



patah hati
[ki] (1) cabar hati; hilang keberanian; (2) hilang kemauan; tidak mau berusaha (berkumpul) lagi; (3) kecewa krn putus percintaan; kecewa krn harapannya gagal


Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/patah%20hati/mirip#ixzz30Y83LYn2


Ada apa dengan patah hati?
Mengapa sakit?
Lalu bagaimana bangun dari patah hati?

Pertanyaan sederhana dan lumrah. Tidak ada yang salah. Bahkan dengan patah hati itu sendiri. Yang salah adalah ketika kita terlalu terpuruk dan tidak mau berjuang keluar dari patah hati itu sendiri.

Sakit karena patah hati kira-kira hampir sama seperti sakit ketika terluka karena goresan atau jatuh. Tapi mungkin lebih parah, karena batin mempengaruhi jasmani.

Bangun dari patah hati itu bergantung pada diri kita. Kamu mau bangun atau tidak? Kamu mau lolos atau diterkam singa dan mati terkapar?

Saya lupa kapan terakhir saya patah hati. Mungkin 2 tahun lebih 2 bulan yang lalu. Atau sebulan yang lalu? Atau beberapa hari sebelum ini? Entahlah, saya lupa. Saya tidak ingat, atau tidak ingin mengingatnya.

Saya menulis ini karena merasa beberapa hari ini dikelilingi orang yang sedang sakit batinnya. Entah putus cinta, sakit hati, kecewa atau memang tidak ingin bangun dari sakit itu sendiri.

Kadang terlintas pertanyaan, mengapa ada orang yang senang (atau mungkin tidak sengaja) mematahkan hati orang lain? Tapi mungkin beberapa juga kesalahan si orang yang patah hati. Kita tidak pernah tahu kan apa yang membuat kita memilih pergi dan mematahkan hati orang lain dan mengapa kita memilih bertahan dan jatuh kalau kita sudah tahu pada akhirnya akan patah hati.

Pada akhirnya itu tetap akan menjadi rahasia hati yang mungkin masing-masing pemiliknya belum tentu tahu jawabannya.