Pages

#MariMelongok: Pilihan dan Batasan?

Minggu, 11 Desember 2016



Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini. Banyak hal yang kita senangi di dunia ini. Tapi, apakah semua bisa memenuhi?

Kemarin sore mengobrolkan hal-hal sedikit berat dengan salah satu kakak tingkat sehabis pulang dare menonton film dokumenter di FFD Jogja 2016. Obrolan menarik tentang pilihan dalam hidup yang terkadang memang dibatasi oleh batas-batas. Gender, fashion, kesenangan.: mengapa wanita tidak boleh begini dan seharusnya begitu, mengapa orang berhiijab dalam berpakaian mempunyai batasan, dan mengapa apa yang kita senangi belum tentu bisa kita jadikan pilihan utama. Pembicaraan itu berakhir pada satu kesimpulan bahwa tidak semua yang kita senangi bisa kita jadikan pilih utama. Ada batas-batas tertentu yang membuat kita tidak bisa membuatnya menjadi demikian. Ada nilai-nilai, norma-nomra, dan akibat-akibat tertentu yang membuat kita kemudian berpikir ulang untuk memilih dan melakukan hal tersebut.

Mungkin tidak semua orang akan berpikir demikian. Banyak juga orang-orang yang berani untuk mengambil risiko dari setiap hal yang dia pilih. Saya senang melihat orang-orang seperti itu. Saya tidak iri. Saya malah belajar banyak dari orang-orang yang mampu melebihi batas di masyarakat dengan tetap menunjukkan keberhasilannya.

Pada akhirnya semua orang mempunyai pilihannya masing-masing dalam hidup. Kita tidak pernah bisa menunjukkan mana yang baik dan buruk untuk dia. Hukum, batasan-batasan dalam agama, memang kita jadikan sebagai acuan. Tapi yang memilliki hak untuk memilih tetaplah kita, Meski terkadang semesta dan Tuhan berkata lain, itu urusan nanti. Mungkin kamu tetap diingatkan bahwa jalanmu memang bukan di situ. Bukan pilihanmu yang salah, tetapi memang begitu adanya.

Teringat salah satu cerita teman yang ingin mengulang ujian masuk perguruan tinggi di jurusan lain. Dia sudah membayar, sudah mendaftar. Tapi saat hari daftar ulang, ia lupa sehingga ia tidak bisa mengikuti ujian masuk tersebut. Satu kata yang saya ingat dari dia, “Ya berarti memang bukan jalannya. Ya berarti emang jalanku di Psikologi."

Cerita lain, seperti film yang kemarin saya tonton, Roshmia, bercerita tentang suami-isteri Palestina yang melawan pemerintahan Israel dengan tetap bertahan hidup di rumah reyotnya yang bertempat di bawah jalan yang sedang dibangun oleh pemerintahan Israel, di Roshmia. Banyak konflik yang timbul dari kehidupan mereka selama proses penggusuran, dari anaknya yang meminta untuk pindah, suami yang ingin tetap bertahan di sana, dan isteri yang akhirnya menginginkan untuk pindah juga. Film tersebut kemudian berakhir dengan keputusan mereka untuk pindah, pergi dari rumah tersebut. Meski sang suami tetap tidak rela. Bahkan ia menyumpahserapahi pemerintah yang membongkar rumah mereka.

Memilih apa yang kita sukai memang berhak kita lakukan. Tapi ketika kamu sudah memilih hal tersebut, jangan pernah menyesal.  Nikmati prosesnya sembari kamu melakukan hal yang memang benar-benar kamu sukai. Mungkin saja kamu bisa menemukan ide baru yang bisa menggabungkan apa yang kamu sukai dan kamu pilih.

Ketika kamu memilih untuk bertahan dengan apa yang kamu inginkan dan memutuskan untuk mengejarnya, jangan lupa untuk berisitrahat sejenak, melongok, melihat sekitar. Jangan memaksa diri untuk terus berlari. Karena itulah risikonya. Nikamti risiko tersebut sembari melihat hal lain yang bisa kamu lakukan, yang mungkin bisa membawa kamu perlahan pada keinginanmu. Toh, kamu tidak pernah tahu rencana Tuhan. J


Tidak ada komentar :

Posting Komentar