Pages

Bapak dan Bintang

Selasa, 27 Desember 2016

Bapak dan Bintang

Saya gak tau, tapi saya ingin sekali menuliskan jurnal tentang kedua lelaki yang paling banyak berinteraksi dalam kehidupan saya. Bapak dan Bintang, adik lelaki saya satu-satunya.


Keinginan menulis tentang keduanya muncul karena saya melihat sebuah potret mereka yang saya ambil saat kami sekeluarga sedang main ke Pantai Goa Cemara. Foto yang memperlihatkan Bapak dan Bintang yang sedang duduk bersama di atas gardu yang terletak di pinggir bibir pantai. Keduanya sama-sama melihat ke arah pantai.


Saya gak tau apa yang mungkin dipikirkan oleh Bapak dan Bintang pada saat momen tersebut. Namun, saya senang ketika melihatnya lagi. Sudah lama rasanya tidak melihat keduanya bersama-sama dalam satu frame foto. Sebenarnya, itu karena kami juga jarang berfoto bersama sih hehehe. Selain itu, Bintang juga udah mulai malu jika difoto maupun diminta foto bersama. Jadi saya suka ngambil potret dia diam-diam hehehe. Tapi saya lebih suka ngambil potret orang kayak gitu sih, lebih terasa ‘asli’ dan ‘apa adanya’  hehehe.





Foto aja yang mau saya posting. Besok saya mau cerita tentang Bintang di postingan lainnya hehehe.

2016

Rabu, 21 Desember 2016


2016 merupakan tahun di mana saya belajar banyak hal, baik melalui teman-teman dekat saya, kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, maupun orang-orang baru yang saya temui. Banyak hal-hal di tahun ini yang mengubah cara pandang saya, membuat saya sadar bahwa apa yang saya pikirkan selama ini perlu diperbaiki. Bukan diubah, tapi diperbaiki.


Sebenarnya, pelajaran-pelajaran yang saya dapatkan di tahun ini telat saya sadari. Saya baru benar-benar menyadarinya ketika saya akan memasuki semester tiga saya kuliah. Mei 2016. Saya memutuskan untuk menjadi pemandu di acara PPSMB Halo PRK 2016. Pengalaman baru yang membuat saya sadar bahwa saya hanya cukup menjadi diri saya sendiri. Sejak itu saya belajar untuk memahami diri saya apa adanya.


Pengalaman baru lainnya ketika saya memutuskan untuk mendaki Gunung Merbabu bersama-sama teman dari PALAPSI UGM, pengalaman yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan untuk ikut di dalamnya, meskipun tidak seaktif yang lain hehehe. Keputusan yang memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Saya belajar bagaimana profesionalitas dibentuk, belajar mengerti dan memahami sesama, belajar mengutarakan apa yang memang saya rasakan secara asertif, dan belajar bagaimana bersama-sama bekerja menjadi sebuah keluarga.


Tahun ini juga, saya diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan orang-orang hebat di REPSIGAMA dalam acara Diklat 2016. Saya belajar banyak dari PANTI di acara tersebut, Yuman, Asfira, Rara. Terima kasih untuk pengalaman mengasyikan pada masa pra, during, dan pasca diklat hehehe.


Tuhan juga dengan baiknya mempertemukan saya dengan kedua teman dekat saya di tahun ini. Firyal dan Elok. Dua orang yang membuat saya sadar dan belajar. Dari Firyal, saya belajar untuk menjadi dewasa dan tangguh. Dari Elok, saya belajar menerima dan menjadi diri saya. Dua orang yang selalu berusaha ada. Dua orang yang selalu menjadi tempat menghabiskan waktu meski tau ada laporan yang harus segera dikerjakan. Dari mereka saya belajar untuk yakin pada diri saya, bahwa saya harus mempercayai bahwa saya mampu, dan percaya bahwa menjadi diri sendiri adalah cara terbaik.

Saya tidak pernah merasa sebahagia ini mengakhiri sebuah tahun. Bahagia yang membuat saya sadar dan mampu memaknai sebagian perjalanan selama duabelas bulan ini. 2016 membuat saya semakin bersyukur. 2016 membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat yang membuka pikiran-pikiran baru, membuka pikiran-pikiran yang selama ini tertahan dalam benak saya. 2016 :)

#MariMelongok: Pilihan dan Batasan?

Minggu, 11 Desember 2016



Banyak hal yang kita inginkan di dunia ini. Banyak hal yang kita senangi di dunia ini. Tapi, apakah semua bisa memenuhi?

Kemarin sore mengobrolkan hal-hal sedikit berat dengan salah satu kakak tingkat sehabis pulang dare menonton film dokumenter di FFD Jogja 2016. Obrolan menarik tentang pilihan dalam hidup yang terkadang memang dibatasi oleh batas-batas. Gender, fashion, kesenangan.: mengapa wanita tidak boleh begini dan seharusnya begitu, mengapa orang berhiijab dalam berpakaian mempunyai batasan, dan mengapa apa yang kita senangi belum tentu bisa kita jadikan pilihan utama. Pembicaraan itu berakhir pada satu kesimpulan bahwa tidak semua yang kita senangi bisa kita jadikan pilih utama. Ada batas-batas tertentu yang membuat kita tidak bisa membuatnya menjadi demikian. Ada nilai-nilai, norma-nomra, dan akibat-akibat tertentu yang membuat kita kemudian berpikir ulang untuk memilih dan melakukan hal tersebut.

Mungkin tidak semua orang akan berpikir demikian. Banyak juga orang-orang yang berani untuk mengambil risiko dari setiap hal yang dia pilih. Saya senang melihat orang-orang seperti itu. Saya tidak iri. Saya malah belajar banyak dari orang-orang yang mampu melebihi batas di masyarakat dengan tetap menunjukkan keberhasilannya.

Pada akhirnya semua orang mempunyai pilihannya masing-masing dalam hidup. Kita tidak pernah bisa menunjukkan mana yang baik dan buruk untuk dia. Hukum, batasan-batasan dalam agama, memang kita jadikan sebagai acuan. Tapi yang memilliki hak untuk memilih tetaplah kita, Meski terkadang semesta dan Tuhan berkata lain, itu urusan nanti. Mungkin kamu tetap diingatkan bahwa jalanmu memang bukan di situ. Bukan pilihanmu yang salah, tetapi memang begitu adanya.

Teringat salah satu cerita teman yang ingin mengulang ujian masuk perguruan tinggi di jurusan lain. Dia sudah membayar, sudah mendaftar. Tapi saat hari daftar ulang, ia lupa sehingga ia tidak bisa mengikuti ujian masuk tersebut. Satu kata yang saya ingat dari dia, “Ya berarti memang bukan jalannya. Ya berarti emang jalanku di Psikologi."

Cerita lain, seperti film yang kemarin saya tonton, Roshmia, bercerita tentang suami-isteri Palestina yang melawan pemerintahan Israel dengan tetap bertahan hidup di rumah reyotnya yang bertempat di bawah jalan yang sedang dibangun oleh pemerintahan Israel, di Roshmia. Banyak konflik yang timbul dari kehidupan mereka selama proses penggusuran, dari anaknya yang meminta untuk pindah, suami yang ingin tetap bertahan di sana, dan isteri yang akhirnya menginginkan untuk pindah juga. Film tersebut kemudian berakhir dengan keputusan mereka untuk pindah, pergi dari rumah tersebut. Meski sang suami tetap tidak rela. Bahkan ia menyumpahserapahi pemerintah yang membongkar rumah mereka.

Memilih apa yang kita sukai memang berhak kita lakukan. Tapi ketika kamu sudah memilih hal tersebut, jangan pernah menyesal.  Nikmati prosesnya sembari kamu melakukan hal yang memang benar-benar kamu sukai. Mungkin saja kamu bisa menemukan ide baru yang bisa menggabungkan apa yang kamu sukai dan kamu pilih.

Ketika kamu memilih untuk bertahan dengan apa yang kamu inginkan dan memutuskan untuk mengejarnya, jangan lupa untuk berisitrahat sejenak, melongok, melihat sekitar. Jangan memaksa diri untuk terus berlari. Karena itulah risikonya. Nikamti risiko tersebut sembari melihat hal lain yang bisa kamu lakukan, yang mungkin bisa membawa kamu perlahan pada keinginanmu. Toh, kamu tidak pernah tahu rencana Tuhan. J