Pages

Sedikit Saja...

Rabu, 29 Mei 2013

(Taken by me)

Tuhan mempertemukan laut dan daratan untuk saling melengkapi. Dan dengan pertemuan itu mereka menjadi satu harmoni yang selaras, memahat rupa bumi dengan senandung ramah. Walaupun laut sering mencumbu daratan dan membuatnya semakin menipis, tapi daratan tetap menerima. Namun, keduanya tetap mengingatkan bahwa ada waktunya mereka berhenti menyakiti satu sama lainnya. Seperti matahari yang selalu ingat untuk membagi sedikit kekuatannya kepada bulan dengan memantulkan sinarnya. Sungguh, bagaimana kekuatan itu memahat segalanya melebur menjadi satu untuk saling menerima satu dengan yang lainnya.

Minggu, 26 Mei 2013

Be Original

“I never set out to be weird. It was always other people who called me weird.” 
 Frank Zappa (Via: Goodreads)




Percik!

Rabu, 22 Mei 2013


Percik Hujan
by
Annisa Nur Harwiningtyas.
Nikon D3100.
Shutter: 1/4000. ISO 100.

NB: Waktu jepret ini belum ngerti sama sekali sama yang namanya ISO atau apapun itu nama dan jenisnya, jadi, ya ISO-nya cuma 100. Karena ISO-nya cuma 100 hasilnya gelap dan harus di-brightness biar kelihatan percikannya. 

Prosa Kecil: Seorang Kapiten

Senin, 20 Mei 2013

Aku adalah seorang kapiten. Berseragam resmi negara dengan pedang panjang yang menjulur dari sela-sela jemariku. Mengayunkan pedang sesuai ritme tapak sepatu yang berderap membentuk barisan, prok-prok-prok. Mencoba melawan, membela negara yang sedang menderu melawan penjajah. Menahan perih mendengar jeritan massa yang menyeru tolong.
Sayang, zaman berganti. Orang-orang mulai lupa. Anak-anak mulai hilang dari batas kota. Dan penyeru-penyeru kemerdekaan itu kini telah tiada. Kota itu mulai tidak bernyawa.
Sekarang, apakah aku masih disebut sebagai seorang kapiten?


(20-05-13)
Annisa Nur Harwiningtyas

Mess

Jumat, 17 Mei 2013



Taken from inside of the car when it moved.
Twilight.Mess.Sky.
by Annisa Nur Harwiningtyas.

Rabu, 08 Mei 2013

Malam itu ramai. Lampu-lampu dengan berbagai warna melingkupi kita. Gemerisik orang yang sedang mengobrol memenuhi atmosfer kita. Dan lantunan lagu-lagu jazz pengiring melatari malam itu. Tapi yang aku benar-benar ingat adalah kamu ada di sampingku, mengucapkan satu kata yang sampai sekarang hampir selalu terngiang di telingaku: Kita.