Moments
Kamis, 31 Mei 2012
Tinggal menghitung hari untuk penentuan masal bagi anak-anak SMP angkatan saya. Bagaimana tanggal 2 Juni sangatlah berpengaruh pada diri kita, khususnya bagi anak-anak kelas 9 yang tahun ini lulus. Begitu banyak kenangan yang terjadi, yang memberi makna serta kesan dalam perjalanan selama 3 tahun bersama. Detik demi detik seakan sia-sia untuk dibuang sendiri. Dalam diri, sungguh ada harapan untuk kembali bersama dalam kehangatan; bercanda dan tertawa seperti biasa, menggurutu satu dengan yang lain, menangis bahagia akan suatu hal. Belajar bersama kembali dalam kelas, dalam ruang lingkup luas yang mengajarkan banyak hal, tentang persahabatan, kasih sayang, kemandirian, kerja keras, bahkan jatuh cinta. Begitu banyak hal yang telah dilewati bersama, dengan otot maupun hati. Sekolah, rumah kedua yang telah menyediakan tempat berlindung bagi kita, tempat menempa segala rasa campur aduk, tempat menggali sumur pengetahuan, dan tempat mencari segala hal baru yang belum kita temukan dalam hidup kita. Guru-guru yang menyayangi kita, sahabat yang mengerti kita apa adanya. Kecil namun berkesan, begitulah masa-masa yang tidak akan pernah terlupakan bagi kita. SMPN 1 YOGYAKARTA.
Kamis, 17 Mei 2012
Baru saja saya membaca salah satu postingan publik figur di tumblr. Saya suka dengan pemikiran-pemikiran dewasa dia, meski dia baru berumur 14 atau 15 tahun, sama seperti saya. Pemikiran hal-hal positif yang dia tuangkan seperti memberi pencerahan bagi diri saya sebagai anak remaja yang masih labil. Banyak hal dari postingan dia yang saya read membuat saya sadar begitu banyak anak yang beranjak dewasa tetapi belum memiliki pemikiran sematang dia, termasuk saya mungkin.
Beberapa kali, saya juga senang memperhatikan tweet-tweet dia twitter. Ada satu tweet, atau mungkin jawaban, dari pertanyaan followers dia yang membuat saya ngeh dan sadar bahwa kedewasaan adalah pilihan dan pilihan itu yang, kira-kira, menggambarkan masa depan kita, sehingga sebisa mungkin kita harus memulainya dari sekarang. Anak-anak zaman sekarang jarang sekali memikirkan tentang hal itu. Diri mereka lebih memikirkan yang-penting-sekarang-kayak-gitu-bisa-nanti. Saya tidak memungkiri bahwa saya pun kadang seperti itu dan saya ingin menghilangkan sikap seperti itu dari diri saya. Saya ingin berubah jadi lebih dewasa dan berpikiran ke depan.
Gambaran lain yang saya suka dari dia adalah bagaimana wawasan dia. Wawasan dia dalam jangka remaja ini menurut saya sudah dewasa. Bahkan, anak-anak seumuran dia mungkin belum memikirkan hal-hal apa saja yang akan datang di depan mata. Tapi, otaknya seperti telah terprogram bahwa dia harus ini, harus itu. Saya senang dengan dia yang sepertinya tidak senang mengeluhi tentang pelajaran. Mungkin beberapa kali, tetapi selalu dibuat enjoy.
Hal tadi mengingatkan pada guru seni rupa saya. Beliau pernah bercerita bahwa kakak kelas saya yang sekarang sudah kelas 2 SMA, yang menjadi salah satu di OSIS, dewan penggalang, dan juga panitia buku tahunan semasa SMP tidak pernah memandang pelajaran dengan sebelah mata atau mata penuh. Dia selalu mempelajari semuanya tanpa memandang bahwa ini sulit atau mudah, juga tidak pernah mengesampingkan urusan sekolahnya dari urusan-urusan di atas. Hal seperti inilah yang diperlukan dalam belajar, begitu kata beliau, dan saya setuju. Meski saya belum melakukan hal seperti itu, tapi suatu hari saya harus melakukan hal seperti itu.
Intinya, kedewasaan itu pilihan, seperti yang dikatakan publik figur yang saya bicarakan dan yang disiratkan guru seni rupa saya. Orang yang berpikiran dewasa tingkah laku dan cara berpakaiannya akan mengikuti perlahan-lahan, tetapi orang yang berpenampilan dewasa belum tentu berpikiran dan bertingkah laku dewasa. Itu kesimpulan yang saya ambil. Dan saya ingin menjadi orang yang berpikiran dewasa dengan tingkah laku yang dewasa.
Sekarang, bagaimana dengan kamu?
Berubah
Aku akui, aku memang egois. Aku tidak ingin kalah meski dengan saudara laki-lakiku sendiri. Aku selalu merasa bahwa aku harus bisa dan menang. Ada suatu rasa dimana terkadang kita menginginkan orang-orang memperhatikan kita tanpa teralih oleh orang lain. Tapi, aku akui rasa itu tidak baik untuk kita momong, karena ada kalanya kita harus bisa mengalah pada semut-semut merah yang mengangkut makanan. Ada kalanya kita harus mundur untuk beristirahat. Jika tidak, orang-orang bisa saja jengah dengan kita dan memilih untuk pergi perlahan-lahan, takut menyakiti. Dan kepergian mereka hanya akan merugikan kita; penyesalan, sakit hati. Intinya, kita harus mengubah sikap jelek kita.
Minggu, 13 Mei 2012
Mereka duduk bersisian menghadapi langit senja yang berubah menjadi jingga keungu-unguan. Hembusan napas keduanya yang sama-sama menderu memenuhi kesunyian yang menempa—beberapa kali angin mengisinya lalu pergi, digantikan kicau burung beberapa kali, setelah itu gemerisik ilalang.
Garis horizon semakin rendah membawa jingga, hanya menyisakan kamuflase-kamuflase kecil pada awan yang saling melukis. Rembluan pun sudah mulai muncul, meski malu-malu. Namun, mereka masih tetap diam, seperti ingin menyimpan tiap bait kalimat sendiri, tak ada yang perlu tahu. Meski kedua hati milik mereka saling menyapa dan bertutur.
Senja pun akhirnya pulang dengan ditutup kesunyian dari mereka. Hanya senyum yang sama-sama merekah dan kedua jari yang saling bertaut yang menjadi pengisi suara keduanya.
Sabtu, 12 Mei 2012
Dia terdiam. Jantungnya berdentum. Otot-ototnya menegang, dan kedua sudut bibirnya tak kuasa untuk tidak saling menarik membentuk satu lengkungan. Wajahnya merona tak terkendali. Reflek, dia menunduk. Ada buncahan rasa itu lagi, buncahan yang selalu berhenti pada satu titik organnya. Mata; dia tidak dapat melepaskan pandangannya sekilas saja dari seseorang di ujung sana. Lelaki itu, lelaki dengan sejuta senyuman.
Sabtu, 05 Mei 2012
Di postingan sebelumnya saya kan sudah bilang kalau ceritanya saya borong, hehe. Foto ini diambil tadi malam di acara resepsi anaknya teman ayah saya. Foto pengantinnya ada di nomor 5 dari atas.
Saya tidak tahu mengapa di beberapa meja terdapat patung-patung, tapi menurut saya penempatan patung-patung tersebut menjadikan resepsi tersebut menjadi unik.
So, yang mana foto yang kamu suka dari hasil potrey saya?
P.S: Kritik dan saran saya tunggu selalu. : )
My Photoworks 7 ❦
Ceritanya, saya borong nih. Kesepuluh foto di atas saya ambil di 2 lokasi yang berbeda. Untuk 3 foto pertama, saya ambil di UGM, lebih tepatnya di pelataran Graha Sabha Pramana, dekat Sunday Morning UGM. Untuk foto selanjutnya, diambil di Pantai Depok.
Foto-fotonya keliatan kalau diedit, kan? Tapi saya cuma edit dikit kok, paling dikontrasin sama dipertajam, plus dikasih nama saya di bawah sisi kanan/kiri. Kalau tidak saya hasilnya jadi kurang nendang (di hati saya) . Secara juga, saya belum punya kamera DSLR, saya hanya memotret menggunakan kamera digital biasa. Lagi pula, saya masih amatiran, seperti yang sering saya tulis di setiap postingan tentang photoworks saya.
Kritik dan saran saya terima selalu.
Terima kasih : )
Langganan:
Komentar
(
Atom
)