Pages

Keep Fight!

Selasa, 24 Mei 2011

Aku tau ujian kali ini emang ga segampang yang kemarin, walau yang kemarin-kemarin juga ga lebih gampang dari yang ini sih. But, yeah, it's make me really-really upset and disappointed with myself, but also make me to study hard again to repeat this level. Aku bener-bener ga nyangka sih, tapi yang itulah realitanya, aku ga naik level untul level enam ini. Sedih? Pasti. Nyesel? Pasti. Bahkan mungkin sangat. Tapi, kalo boleh jujur sama diri sendiri, mungkin ini juga kesalahanku. Terlalu nganggep kalo ujian ini 'kecil' ( Padahal sama sekali engga kecil, tapi juga ga sulit ) . OK, aku tau sebenernya ini bener-bener ga boleh: nganggep sesuatu itu kecil atau gampang, sekecil apa-pun pekerjaan itu. Dan, yah, mungkin Allah ngasih aku ini buat jadi pelajaran, bahwa engga ada hal yang gampang di dunia ini, semuanya butuh perjuangan, semua butuh kesabaran, dan semua butuh kesungguhan.

Di level-level sebelumnya aku selalu sungguh-sungguh dan berjuang, soalnya aku takut ga naik dan ga diboleh ikut les lagi sama bapak. Tapi yang kali ini, kalo boleh jujur, aku kurang sungguh-sungguh sama berjuang, kayaknya males dan BoMat banget gitu. And finally, I got bad score to examine this level.

Sebenernya, waktu ujian speaking tadi aku udah ada feeling ga enak, soalnya Mrs.-nya tanya kayak gini: What do you do if you get bad score? Nah, udah, pikiranku udah bilang gini nih, " Wah, ada apa-apa ini!" Dan waktu mau nerima hasilnya Mrs.-nya udah ngomong gini aja, " Sorry, Annisa, you must be leave at this level. Don't be sad! You can repeat again."

OH MY GOD!!!

Udah deh, pikirku. Keluar rungan pasang muka kusut, ditekuk-tekuk, tatapan membunuh, dan yeah, mau gimana lagi, udah kejadian, ga ada yang bisa diulang atau disesali. Mungkin ini emang pelajaran buat aku, pelajaran yang--mungkin--ga bakal tak lupain. Pelajaran buat aku untuk bisa lebih dewasa dalam ngatur waktu ( waktu itu aku ada yang belum tak selesain soalnya ), dewasa dalam belajar ( lebih sungguh-sungguh dan berjuang ), dan dewasa dalam pikiran, nerima gitu kalo ini emang realita yang ada buat aku, yang harus aku ubah di esok hari, dan sebisa mungkin harus aku hapus, biar ga kejadian lagi.

So, buat kalian, jangan sampai ini kejadian sama kalian ya guys! Kalo yang udah pernah ngerasain sebisa mungkin jangan diulang lagi! Karena ini bisa jadi Zat Adiktif untuk kita. Ngerti, kan, sesuatu yang enak pasti akan membuat kita untuk mencobanya lagi, lagi, dan lagi. Bukan enak dalam artian kayak tidur atau nyobain makanan enak gitu. Tapi gini: Kamu ga naik level ujian les mata pelajaran, terus kamu ngulang lagi. Besoknya waktu kamu ujian lagi kamunya mikir gini, " Halah buat apa belajar, lagian besok bisa ngulang lagi." Nah, kalo pikiran kayak gini udah nancep di hati dan otakmu itu yang jadi masalah. Percaya ga, dengan kamu ga naik level orang-orang yang kenal sama kamu bisa aja mikir gini, " Ih, kok dia ga naik mulu sih, (maaf) bodoh po?" Mau dipikir orang kayak gitu? Kalo aku sih ga mau, malu. Nah, makanya jangan sampai pikiran kayak gitu nancep dipikiran kalian.

Kesimpulannya, jangan sekali-sekali kita nganggep remeh sesuatu, sekecil apa-pun pekerjaan itu, se-gampang apapun pekerjaan! Karena sesuatu tidak akan menjadi baik jika kamu berfikir yang 'menyombongkan' diri. Dan, jangan mengerjakan apa-pun tanpa kesungguhan dan perjuangan! Karena hasil yang baik adalah hasil yang kamu kerjakan dengan perjuangan dan kesungguhan.


Kayaknya aku nulisnya udah panjang ye? OK, aku akhiri ya? Maaf kalo ada salah dalam kata dan penulisan. Maaf juga kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, maaf banget, aku ga maksud.
See you di entri berikutnya. Thanks to read, and KEEP FIGHT FOR US!! :) :D

Regards
-Nisa-

Nostalgia ( Cerpen )

Rabu, 18 Mei 2011

Ku tatapi tempat ini, gedung bercat krem susu serta putih. Dibeberapa bagian temboknya, cat-catnya sudah mulai mengelupas. Lumut-lumut juga mulai tumbuh dibeberapa tempat. Pohon Flamboyan yang menjadi ciri khas gedung ini, masih berdiri kokoh di sisi sebelah kanan gedung ini. Bolam kuning itu, juga masih menghiasi pelataran gedung ini. Halaman gedung ini, masih sama seperti terakhir kali aku meninggalkannya.
Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam gedung ini. Semua masih sama. Meja piket di sisi kanan, papan pengumuman di sisi kiri. Semua benar-benar masih sama. Bahkan saat aku berjalan di koridor gedung ini, rasanya masih sama seperti saat aku berjalan di sini untuk pertama kalinya. Sama seperti saat dimana aku harus menanggalkan pakaian putih-merah-ku dengan putih-biru yang sekarang sudah tak cukup lagi untuk ku pakai.
Tempat ini adalah tempat dimana pertama kalinya aku mencicipi apa yang dinamakan cinta monyet, dan merasakan apa yang dinamakan patah hati.
*
Juli 1989
                Ku tatapi huruf-huruf dan angka bercat biru laut yang bertengger kokoh di gapura gedung ini. SMP N 1 Semarang, huruf-huruf dan angka itu membentuk tulisan seperti itu. Ku dongakkan kepalaku. Ku lihat Ayah tersenyum padaku.
                “ Ayo kita masuk!” ucapnya sambil merangkul pundakku.
Aku mengangguk. Ku ikuti langkah kakinya yang memasuki gedung ini. Di dalam, ku lihat anak-anak seumurankubersama orang tua mereka, memenuhi koridor gedung ini. Ku lihat para guruyang nantinya mungkin juga akan menjadi gurukumemberikan pengarahan bagi para orang tua murid.
                “ Ayo kita lihat, dimana kamu ditempatkan!” Ayah menggandeng tanganku menuju sebuah papan pengumuman di sisi kiri pintu gedung ini. Ayah dan aku berdesak-desakkan dengan banyak manusia di tempat ini. Sampai di depan papan pengumuman, ku lihat namaku di se-gerombolan nama di kelas 7.3.
                “ Yah, aku ditempatkan di kelas 7.3!” ucapku sedikit berteriak.
Ayah dan aku segera keluar dari gerombolan manusia yang semakin menyeruak itu. Dengan langkah kaki yang mantap, aku dan ayah menuju ke kelas 7.3, kelas dimana aku akan bertemu dengan teman-teman baru, dan kelas dimana aku akan memulai hidupku yang baru, hidup sebagai murid SMP.
*
Ku lihat semua meja telah terisi, hanya tinggal meja di pojokan kelas ini saja yang tersisa. Dengan sigap, kulangkahkan kakiku lebar-lebar ke arah meja tersebut. Setelah kutaruh tasku, kukeluarkan alat tulis beserta buku tulis yang masih kosong di atas meja. Baru saja aku menutup resleting tasku, sebuah suara telah mengajakku bicara.
                “ Aku boleh duduk di sini?” tanya suara itu. Kulihat seorang anak seumuranku sudah berdiri tegap di samping meja. Potongan rambutnya sedikit cepak. Kemeja dan celana panjang birunya, masih terlihat sangat baru. Tas ransel hitam, bertengger kokoh di kedua pundaknya.
Dengan sedikit kecanggungan aku mengangguk. Berdiri dan keluar dari meja tempatku duduk tadi. Setelah dia duduk dan menaruh tasnya, aku kembali duduk. Ku lihat ia sedang mengeluarkan alat tulis dan buku kosong sepertiku tadi. Karena tidak ingin ketahuan, aku segera mengalihkan pandanganku kembali ke depan.
                “ Namamu siapa? Aku Deva,” ucapnya sambil menyodorkan tangannya.
Aku menengok, menatap tangannya yang disodorkannya, lalu menatap wajahnya. Sebuah senyuman terlukis di kedua sudut bibirnya. “ Aku Ray,” jawabku sambil menjabat tangannya, lalu melepaskannya. Ia juga kembali menarik tangannya.
                “ Dulu kamu dari SD mana?” tanyanya sambil membenarkan posisi badannya agar bisa menatapku.
                “ Em..SD Pangukatan,” jawabku mantap “ kamu?”
                “ SD Joyopurno.”
                                                         
                                                                            *


Oktober 1990
                Kulirik se-gerombolan gadis yang sedang mengobrol di meja yang terletak di pojokan kantin. Ia ada diantara mereka. Dan sejujurnya, memang hanya ia yang aku cari. Ia yang memiliki kedua pipi yang chubby, rambut panjang se-pinggang, senyuman yang manis. Ia yang sudah benar-benar membius perhatianku setiap istirahat. Ia yang sudah benar-benar membuatku gila akan dirinyajika aku tak melihatnya. Dan ia yang sudah membuat hatiku ber-konser ria, setiap aku melihatnya.
Kulihat ia tertawa dengan teman-temannya di sana. Melihat tawanya itu, membuat suhu tubuhkusecara drastismenjadi naik. Tiba-tiba saja ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia tersenyum padaku, dan aku membalasnya dengan canggung. Setelah itu ia kembali mengobrol dengan teman-temannya.
Itu pertama kalinya ia tersenyum ke arahkusetelah berbulan-bulan aku memata-matainya. Oh, tuhan sungguh manis sekali bidadari-Mu ini!
Aku merasakan pundakku ditepuk seseorang. Ku tengokkan kepalaku. Deva sudah bertengger di sampingku, dengan kedua tangan yang penuh dengan pesanan kami. Aku membantunya dengan menaruh pesanan kami di atas meja.
                “ Thanks ya, Dev,” ucapku sembari memasukkan sambel ke dalam mangkuk yang berisikan 4 butir bakso, dan beberapa mie kuning.
                “ Iya, sama-sama..” Deva terlihat sedang menyedot Jus Mangganya. “ Kamu beneran suka sama Acha?” tanyanya sambil mengaduk-ngaduk jusnya dengan sedotan.
Aku hanya mengangguk sembari mencampurkan sambel, kecap, saos  serta bakso-baksoku menjadi satu.
                “ Nanti ekskulkan? Kamu nungguin aku gak papa-kan, Ray?”
                “ Oh.. gak papa. Sekalian, aku nanti mau cari-cari informasi untuk tugas Biologi di perpus..”
*
                Seperti kataku tadi pada Deva, aku akan menunggunya sambil mencari-cari informasi untuk tugas Biologi di perpustakaan. Dengan langkah gontai, aku melenggang ke dalam perpustakaan yang sepi. Aku menyusuri setiap rak buku dengan saksama. Saat aku akan mengambil buku yang akan ku gunakan, aku melihat iaAchadengan seorang lelaki. Sepertinya ia kakak kelas, dan sepertinya aku kenal. Kalau tak salah ia Mas Ozy.
Aku memilih untuk mengintip mereka dari balik rak (ini tidak baik untuk ditiru). Ku lihat Mas Ozy memberikan setangkai Bunga Lily pada Acha. Lalu mengucapkan beberapa patah kata.
                “ Acha, maukah kamu menjadi kekasihku?” Mas Ozy terlihat sangat gugup saat itu.
Aku tak dapat melihat Acha dengan jelas, karena ia tertutupi oleh Mas Ozy. Tapisekilasdapat ku lihat bahwa ia mengangguk. Apa ini artinya ia menerima Mas Ozy sebagai kekasihnya? Dadaku terasa sangat perih saat itu. Seperti ada dua bilah pisau yang menyayatnya. Tanpa ku sadari, aku menjatuhkan buku-buku yang ada di rak tempatku bersembunyi, dan itu mengusik perhatian Acha dan Mas Ozy. Seketika mereka menengok ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum menyeringaimerasa tidak tahu kejadian apa yang baru saja berlangsung.
                 “ Maaf.. maaf, aku gangguin,” ucapku buru-buru sembari membereskan buku-buku yang jatuh.
                 “ Gak papa kok.” Mas Ozy melangkah ke arahku, lalu membantuku mengembalikan buku-buku itu ke kandang mereka.
Setelah semua buku-buku yang jatuh itu kembali ke kandang mereka, aku buru-buru pamit. Tak kuat rasanya jika aku harus melihat mereka berdua lebih lama. Akan bertambah perih ini jika itu ku lakukan.
*
Ku tatapi buih-buih air yang menggantung di permukaan botol air mineralku. Satu persatu dari mereka lumpuh, meninggalkan seberkas garis vertikal, yang lama kelamaan akan menghilang digantikan dengan buih-buih lainnya. Rasa sakit ini lebih sakit dari rasa sakit biasa. Apa ini yang dinamakan patah hati?
Ku rasakan pundakku ditepuk. Aku menoleh. Ku lihat Deva dan pakaian sepak bolanya basah bermandikan keringat. Wajahnya terlihat sangat merah. Ku tatapi botol air mineralku, lalu menyodorkannya pada Deva. Ia mengambilnya lalu memutar penutupnya dan meneguknya sampai hanya tersisa setengah – atau bahkan seperempat mungkin. Ia mengelap bekas minuman yang tersisa di bibirnya dengan tempurung tangannya, lalu kembali menyodorkan botol itu padaku.
                 “ Makasih ya!” ucapnya. Aku hanya tersenyum masam sembari mengambil botol air mineralku.


                 “ Gimana udah dapet informasi buat tugas Biologi?” aku menggeleng lemah.“ Lemes amat, Ray?” aku  mendongak ke arahnya.
                 “ Dev, yang namanya luka di hati itu lebih perih dari luka biasa, ya?” tanyaku polos.
                 “ Maksud kamu sakit hati?” aku mengangguk. “ Ya gitu, Ray. Emang kenapa? Kamu lagi sakit hati?”
Aku kembali mengangguk–bahkan sekarang lebih lemah.
                 “ Emang ada kejadian apa, sampai kamu sakit hati gini?”
Aku menceritakan semua kejadian di perpustakaan pada Deva, dan ia tersenyum mengerti sambil menepuk-nepuk punggungku pelan.
                 “ Udah gak usah sedih. Masih banyak bukan gadis lain selain Acha?” katanya bijak. Aku tersenyum mendengarnya. Lalu berkata,
                 “ Tumben kamu bijak, Dev?”
                 “ Emang baru kali ini aku bijak?” Aku mengangguk, lalu kami tertawa berdua.
*
Maret 1992
                Bulan ini adalah bulan kelulusan kami, dan aku sangat gembira akan itu. Tetapi, tetap ada rasa sedih yang menyelimuti diriku. Aku harus menanggalkan pakaian yang telah menemaniku selama tiga tahun ini, lalu menggantinya dengan pakaian baru. Dan, aku harus meninggalkan sekolah ini dan menuju ke pijakan selanjutnya.
                 “ Dev, udah tahu mau masuk sekolah mana?” tanyaku, saat kami sedang berada di lapangan sepak bola sekolah.
                 “ Aku belum tahu. Kamu?”
Aku menggeleng. “ Belum tahu juga, Dev. Tapi aku pinginnya kita satu sekolah lagi."
                 
                 “ Aku juga.”
                 “ Dev, aku harap kita bisa jadi sahabat untuk selamanya.” ucapku, sambil memandang Matahari yang mulai menyongsong ke ufuk barat.
                 “ Berjuang bersama-sama, sampai kakek-kakek,” sambung Deva sambil tersenyum.
Aku menengok ke arahnya, ia juga menengok ke arahku. Kami sama-sama tersenyum, lalu saling merangkul satu sama lain, sambil menuju ke tempat parkir, tempat kami memarkir sepeda kami.
*
                Tiba-tiba semua buyar bersamaan dengan sebuah tepukan yang mendarat di pundakku. Aku menoleh. Ku dapati seseorang dengan kemeja dan celana jins hitam tersenyum padaku, memperlihatkan deretan giginya yang tertata rapi. Aku merangkulnya, lalu bersama-sama berjalan beriringan kelaur kelas.
                  “ Loe sekarang udah besar ya, Dev?” tanyaku sembari menepuk-nepuk pundaknya pelan.
      “ Hahaha..,” ia tertawa. “ Loe juga kali, Ray!”
*
                Bersamamu ku habiskan
    Senang bisa mengenal dirimu
    Rasa semua begitu sempurna
    Sayang untuk mengakhirinya
    Janganlah berganti
    ( Ipang-Sahabat Kecil)
                                                                          *
Ini cerpen yang aku buat karena kangen masa-masa di Sekolah Dasar (SD). Tapi kalo aku buat ini dalam bentuk SD cerita ini bisa sepanjang gerbomg kereta, so, I made it when Ray in Junior High School.
Hope you like it :)

Maaf...

Senin, 16 Mei 2011

Ga gampang emang ngucapin maaf, apalagi sama orang yang bener-bener udah kita sebelin atau benci. Tapi, kalo kita terus-terusan terkekang sama ego itu juga ga bagus. Bahkan bisa membuat perasaan dendam atau semacamnya itu tambah membludak. Ditambah lagi kalo orang yang kita 'musuhin' itu ngerasa sama perubahan sikap kita ke dia yang "kok kayaknya gitu banget" bagi dia. Dianya juga bisa ga srek atau mungkin takut tiap kali ketemua kita. Nah, kalian ga mau, kan, buat orang-orang di sekitar kalian jadi ga srek sama kita? Oleh karena itu "Maaf" sangat dibutuhkan. Atau kalo kamu ga mau minta maaf ke dia, paling enggak agak ngerubah sikap jadi lebih baik lah, itu juga udah cukup kok untuk buat dia jadi lebih positive thinking. Walau mungkin masih-lah ada 'sedikit' rasa ga srek atau takut.

Lewat situ juga mungkin kalian bisa jadi temen deket lho! Kan, setelah kita tau sifat aslinya dia, kita jadi bisa ngoreksi dia(nya) juga. But, it's up to you, karena ini tergantung pada pandangan yang kita pakai, dan perubahan sikapnya dia. Mungkin ternyata setelah kamu baikin dia, dianya malah makin nyebelin lebih dari sebelum kamu sebel atau benci ke dia.

Well, lewat ini aku juga mau minta maaf sama orang tua dan temen-temenku, terlebih sama temen deketku. Maaf kalo aku selama ini aku nyebelin, suka bantah perintah kalian (re : orangtua), suka ga 'ngeh' sama perintah yang dikasih, suka bentak-bentak. Maaf banget Pak, Ma, aku ga maksud soalnya kadang udah diluar batas kendali emosi. Buat temen-teme, aku minta maaf karena udah pernah ngerusakin barang kalian, ga sengaja keceplosan rahasia (Jangan ditiru!), suka maksa, atau lemot dan sulit diajak ngomong jadi sering buat kalian dongkol sendiri. Maaf banget, aku bener-bener ga maksud. Saya juga manusia biasa yang selalu punya salah, lahir dari rahim seorang ibu, dan menangis saat memiliki masalah.

Aku juga mau minta maaf sama temen sekelasku, yang entah aku ga tau apa masalah aku sama dia sampai buat dia jadi sebel sama aku dan curiga, aku bener-bener ga maksud untuk itu pada 'kejadian' waktu itu. Aku bener-bener minta maaf banget sama kamu. Semoga kamu mau maafin aku, meski belum tentu kamu baca postingan ini. Karena--kalo aku boleh jujur--waktu kamu musuhin atau sebel sama aku itu udah bener-bener buat aku kesiksa, walau emang ga kesiksa banget, tapi kira-kira cukup lah buat aku jadi stress mikir kesalahanku apa.

Makasih juga buat Allah SWT, karena Ia-lah yang telah memelihara saya lewat kedua tangan malaikat saya, orangtua. Serta menjaga saya dari segala mara bahaya yang--mungkin--selalu ada disetiap detik bumi berputar. Karena Ia-lah saya dapat hidup dan menghirup udara bumi selama 13 tahun ini, dapat menyayangi adik yang meski hampir setiap jamnya berantem dengan saya. Maaf ya, Bin, kalo Mbak Nisa sering buat salah banyak sama kamu. Thanks too buat orang-orang dilingkungan dan sekitar saya, karena udah mau ngisi hidup saya untuk makin berarti dan berwarna. Semoga mereka selalu ada dalam lindungan-Nya, Amien..

Sekian postingan siang ini. Semoga bermanfaat :)

- Nisa :) -

Merdeka

Malam menghunus langit.
Menggelegarkan suara bertuan.
Hening, pecah memekakan
diantara mereka semua.
Berlari dan berlari
melompat dari bilik akan datangnya mereka.
Berusaha berucap
melewati celah-celah keperbudakan.
Tembakan demi tembakan, menjuru
menghempas tiap jantung hati.
Darah demi darah, menguar samar-samar.
Jatuh, merenggut, merapal,
semoga esok angin membawa asa baru
tentang kemerdekaan yang siap bersua.
----
Ini puisi yang saya buat pagi ini, dengan ditemani suara penjual Bakpao, pagi yang bergumul lembut, dan angin yang berdesir pelan.
Selasa, 17 Mei 2011. 06.23 WIB

Be Yourself

Be Yourself Be Yourself Be Yourself Be Yourself  Be Yourself...............


P.s:  (Jangan ditanya postingan paa ini, karena sebenarnya saya kuga tidak tau postingan apa ini, hehehe ;p)
Tapi pokoknya saya hanya mau bilang, jadilah dirimu apa adanya. Hargailah ia sebagaimana Allah telah memberikannya kepadamu dengan keistimewaaan yang masih-masih diberikan kepada kita.

Emancipation

Emansipasi. Apa sih yang dimaksud "Emansipasi Wanita" itu? Mengapa ada hal yang disebut emansipasi itu sendiri? Nah, kali ini aku bakal bahas tentang apa yang dimaksud "Emansipasi Wanita" itu. Sorry, kalo menurut kalian semua ini Ga-Jelas-Banget.

Well, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud emansipasi itu sendiri adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Sedangkan "Emansipasi Wanita" berarti proses pelepasan diri para wanita dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah atau dari pengekangan hukum yang membatasi kemungkian untuk berkembang dan maju. Jadi singkatnya, Emasipasi Wanita itu adalah sebuah proses pembebasan diri para wanita untuk dapat/bisa memiliki hak yang sederajat dengan kaum lelaki dalam berbagai aspek sosial, hukum, atau akademik.

Tokoh emansipasi wanita-pun sebenarnya sudah ada sebelum (Ibu) R.A Kartini (Tokoh emansipasi di Indonesia) lahir. Contohnya saja Ratu Elizabeth I (denger dari temen, hehe :P). Yang setelah R.A. Kartini pun juga ada, misal Nyai Ahmad Dahlan, Marsinah (buruh yang dibunuh. Menurutku itu juga emansipasi.), bahkan mungkin Ibu, Mama, Mami, Bunda, Umi kita-pun termasuk di dalamnya.

Pernah ga kamu mikir bakal kayak gimana hidup kamu tanpa emansipasi wanita (pertanyaan khusus wanita)? Ga boleh tau dunia luar sejak umur 12 tahun (ini pada saat masa R.A. Kartini). Ga boleh memberikan pendapat nya sedikit-pun. Ga boleh sekolah buat ngelanjutin SMP-SMA. Pokoknya ga boleh ngalakuin apa yang "dialkukan" kaum para lelaki, sebelum kita dipinang oleh lelaki pilihan orang tua kita. Huh, mesti benar-benar menyiksa dan ironis banget. Jadi kita harus bersyukur karena telah adanya tokoh yang mau berjuang demi kaumnya.

Apa kamu juga ingin masuk dalam jajaran emansipasi wanita? Oh, kalo menurutku itu sangat bagus, karena dengan kita lebih mandiri maka sebuah pijakan besar akan terlukis jelas dalam perjalanan kita.
So guys, we must try to be autonomous and discipline, because might, it can to be functional in the future for us.

Well, kayaknya gue nulis postingan ga jelas lagi malem ini. Yaudah deh, nulis lainnya, hehehe ;)

P.S: I'm sorry if my grammar is bad enough, hehe :p

Kepingan Hati

Terbang, melayang. Melambung dan terhuyung. Menetap, bersarang pada hati lainnya. Kepingan hati.
----
Kepingan Hati. Entah apa yang dimaksud olehnya. Namun, ketika kamu merasakan kepingan itu jatuh padanya kamu akan tahu bagaimana rasa yang sebenarnya. Mungkin, awalnya kamu tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirimu, namun suatu hari nanti kamu akan mengerti dan menyadarinya. Bukan, bukan tentang bagaimana kepingan itu menetap dan bersarang di hatimu, tetapi bagaimana rasa itu tumbuh, merasuk, dan melambungkanmu ke dalam dunianya, dunia khayal yang selalu mengiangkan-mu dan ia. Tapi, bersamaan dengan itu, yang lain ikut menyodorkan kepingannya untuk kamu rawat. Kamu bimbang, mana yang akan kamu pilih, apakah ia atau dia? Lalu, kamu harus disodorkan pada sebuah kenyataan pahit, bahwa ia yang kamu cinta harus pergi, meninggalkanmu, sendiri. Setelahnya, ia yang menyodorkan kepingan hati itu mendatangimu, menyodorkan bahunya. Namun sayang, kamu masih terpukul dan tak ingin dia menggangumu. Ia berbalik, berucap, "Aku tetap akan menunggumu, meski langit mendung bergemuruh murka, meski kamu tidak pernah menganggapku."
Kamu hanya bisa menangis, merapal, bahwa suatu saat nanti kamu dapat mengakhiri semua dengan baik, tanpa ada yang tersakiti. Hatimu dan hatinya.
Kepingan Hati.
----
Tidak, kepingan itu tidak ingin kamu sedih. Ia hanya ingin kamu belajar untuk memahami satu sama lain. Memahami, bagaimana perasaan orang lain bisa lebih berharga dari yang kamu bayangkan.
________

Eh, jangan anggap beneran ya? Hahaha, ini cuma tulisan GeJe saya, ga kurang ga lebih.

Hujan

Minggu, 15 Mei 2011

Aku tidak pernah mengerti dimana keistimewaan hujan di mataku. Tapi aku senang ketika rinainya turun satu-satu, lalu semakin deras dan deras. Senang, ketika aromanya menguar, berbaur bersama ribuan partikel udaranya yang melewatinya tanpa henti. Senang, ketika ia mengetukkan tubuhnya pada permukaan kaca jendela untuk menemaniku. Senang, ketika ia memelukku dengan caranya yang hangat. Senang, ketika ia mengingatkanku akan dia. Dia yang selalu menari di bawah rinai hujan. Dia yang selalu asyik dengan dunianya, namun mengerti aku luar dalam.

---

Sore ini mendung menggantung menghiasi langit yang sudah kelabu akan tidak hadirnya matahari. Hawa dingin menyusup, meresap, melewati setiap pori-pori dinding kamarku. Perlahan, rinai-rinai air hujan memburamkan kaca jendelaku, mengetuk-ngetuknya pelan, membuat perhatianku sedikit terusik.

Lewat buramnya kaca jendela, kulihat seseorang dalam balutan celana tiga per-empat dan kaos oblong berwarna coklat. Bulir-bulir air menggantung di beberapa bagian rambutnya yang sedikit gondrong. Kepalanya sedikit ia dongakkan, dan tangannya terbuka, bagaikan sayap rajawali yang terkepak lebar. Perlahan, ku lihat ia berputar-putar, masih dengan tangan yang terbuka lebar dan kepalanya yang didongakkan.

Bingung, aku kembali pada kesibukanku, menyelesaikan tulisan yang akan ku posting di sebuah account milikku.

 Tiba-tiba gemuruh bergaung, diikuti patahan keemasan langit yang mengerikan. Seketika aku terlonjak kaget--

Bersamaan dengan itu dia terjongkok, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, takut. Bimbang, rasanya ingin aku menolongnya, tapi aku pun juga takut akan datangnya petir dan gemuruh yang lebih mengerikan.

Kumpulan Puisi Saya

Sekarang aku mau nge-post puisi aja. Enjoy it!
----
Pecinta Diam – Diam ( Puisi )

Aku seperti senyawa angin yang terbang tanpa tahu arah.
Mengitarimu dalam diam, dalam hati.
Aku seperti kicauan burung yang mengalun tanpa henti.
Membawa segenggam pesan dengan isi hati.
Aku seperti malam sunyi yang teronggok mati.
Membawa asa cinta yang tak kunjung sampai.
Aku hanyalah seorang pecinta diam-diam
Yang hanya bisa memandangimu dari jauh tanpa dihiraukan
----

Patah ( Puisi )
oleh Annisa Nur Harwiningtyas

Bilik hatinya berucap
Mengganti satu demi satu
Terduduk
Dalam kesunyian
Menguar
Terlepas dari tempat yang seharusnya

Terlambat
Secercahnya baru saja pergi
Ikut kembali
Dalam gaungan hati yang sakit
Lalu hilang
Pergi tanpa permisi
Hanya meninggalkan satu kenangan
Hati yang tersakiti
Patah

----
Tempo ( Puisi )
oleh Annisa Nur Harwiningtyas

Gemerisik waktu mengalun
Menyanyikan gugusannya untuk bicara
Terbias dalam alunan kisah fana

Tirai kabut lunglai
Menghadirkan satunya untuk kembali
Dalam pelukan tempo lama

Dua sampai tujuh tahun
" Jalanan masih panjang."
Derai tangis dan tawa menerpa
" Aku yakin, garuda masih mengepakkan sayapnya."

Hembus dan terbang
Kembali pada kisah roman
Tentang aku, kita, dan mereka

" Film itu tidak akan selesai, sebelum kita yang menyelesaikannya."
----

Jangan Berlebihan :)

Kalian pasti pernah jadi pecinta diam-diamnya (semacam pengagum rahasia) seseorang, kan? Pastinya pernah dong. Well, bagi yang pernah pasti tau dong rasanya gimana seorang "Pecinta diam-diam" atau
"Pengagum Rahasia" itu. Kalo lagi ketemu sama yang disukai bagian dada kayak cenat-cenut gitu. Tapi giliran tau yang disukai udah punya gebetan atau pacar rasanya kayak dihempas ke dunia paling dalam dari yang pernah kita bayangkan. Tapi sebenarnya rasa sakit itu ga bakal sakit banget kalo kamu ga terlalu melambung, atau kalo engga berharap atau cinta banget sama orang yang kamu sukai.

Jadi gini, kalo menurut aku kita ga bakal ngerasa sakit banget kalo kita engga begitu terobsesi atau terlalu cinta pada orang yang kita sukai. Karena menurut kacamata yang aku pakai, ketika kita menyukai atau mengagumi orang secara berlebihan biasanya pada akhirnya sebuah luka goresan--sekecil apapun itu--akan menyakitimu, dan rasanya akan benar-benar menyiksa batin. Bahkan mungkin fisikmu secara ga langsung. Dan kalo itu terjadi, biasanya kita akan merasakan apa yang dinamakan Upset atau Galau. Bahkan, saking sakitnya dia sama yang namanya C.I.N.T.A, dia sampai kayak Mati Rasa dan ga mau lagi ngerasain bagaimana perasaan itu. Nah, yang Mati Rasa sama Ga Mau Ngerasain Bagaimana Perasaan Cinta itulah yang ga boleh terjadi.

Beberapa minggu yang lalu, entah kapan, aku lagi baca cerpen di facebook. Ceritanya tentang "Pecinta Diam-Diam" gitu. Di cerita itu si cewek yang menjadi "Pecinta Diam-Diam" beberapa kali ngerasa pingin mati rasa sama apa yang dinamakan cinta. Terus di bawah ada yang komentar gini, " Jangan berusaha buat mati rasa, kak, rasanya gak enak banget... bener deh, aku ngalamin sendiri. Bahkan sampai detik ini...." Nah, dari komen ini pasti bisa dong bayangin gimana rasanya? Rasanya waktu jantung kamu sama sekali ga berdetak cepat waktu ketemu orang yang kamu sukai, ga salting waktu kamu ketemu orang yang kamu suka. Pasti bener-bener ga enak dong. Jadi jangan pernah berfikiran untuk Mati Rasa sama yang dinamakan cinta.

Nah, kalo kamu ga mau rasa sakit itu ngerusak kamu secara fisik dan batin kamu harus bisa ga terlalu berharap sama apa yang dinamakan cinta tersebut. Lagian hidup ga selamanya tentnag cinta kok, ada keluarga kamu, sahabat-sahabat kamu, bahkan hidupmu, dan mereka masih lebih berharga dibanding perasaan itu. Walau memang, cinta tetap dibutuhkan dalam setiap perjalanan itu, apalagi dalam keluarga dan persahabatan. Tapi yang di dalam "mengagumi seseorang" itu yang ga boleh terlalu berlebihan, nanti akhirnya sakit malah nyesel dan buat kita lemah.
Jadi kawan, jangan terlalu berlebihan dalam mengagumi seseorang! Suka boleh, bahkan sangat diperbolehkan. Tapi ya itu, kalian tau, kan?

Finally, I'm finish write my posting. Hope, postingan ini berguna buat kalian, termasuk aku :)

Hai!

Aku bingung sebenarnya mau nulis apa, tapi untuk ngisi blog ke-2 ini (blog pertama lupa passwordnya apa) yaudah aku ngisi kaya semacam perkenalan.

Mungkin ga ada yang istimewa dari blog ini, bahkan--mungkin--kebanyakan fungsi 'Blog' telah dialihkan oleh facebook dan bahkan twitter. Well, bahkan di kalangan temen-temenku, udah kebanyakan kata 'Blog' menghilang ditelan globalisasi. But, ada juga temen-temen ku yang masih menggunakan account ini buat nulis-nulis tulisan mereka. Entah cerpen, hidup mereka, atau bahkan curhat tentang lawan jenis yang mereka sukai.

Kalau aku sendiri buat acc ini kebanyakan karena ketularan temen. Yeah, sering sih aku liat blog-blog mereka, dan ternyata itu menular ke aku untuk buat acc blog. Walau sebenernya aku udah pernah punya blog, but, yeah, you can look at paragraphs one. Well, sekian dulu tulisan GeJe ini. Hope you like my blog :)

Regards
-Nisa-