Pages

#MariMelongok: Perbedaan

Minggu, 17 Juli 2016



Manusia itu rumit, menurut saya. Kenapa? Karena manusia itu punya cara pandang yang berbeda. Kita hidup dengan pikiran kita masing-masing, yang dibentuk juga dari pengalaman hidup kita masing-masing. Contohnya, ketika kita mikir kalau hal A itu benar, orang lain belum tentu sependapat dan lebih memilih hal B, ketika kita berperilaku demikian yang menurut kita paling baik, orang lain belum tentu demikian. Pikiran-pikiran kita tersebut yang kemudian akan membentuk pola pikir dan sikap kita dalam menghadapi suatu masalah. Analoginya bisa dengan foto di atas yang mana perilaku orang-orang tersebut menggambarkan apa yang sedang mereka pikirkan.

Memang gak semua pikiran-pikiran kita dibentuk oleh diri kita sendiri. Kadang beberapa dari pikiran tersebut juga dipengaruhi oleh pikiran orang lain yang kita kagumi dan kita anggap benar. Tapi tetap, menurut saya, pikiran-pikiran yang kita anggap benar itu pada akhirnya juga akan berkembang sejalan dengan pengalaman-pengalaman hidup kita.

Perbedaan dalam cara pandang kadang yang membuat manusia itu berkonflik. Terkadang konflik tersebut membuat kita merasa jadi yang paling benar. Kita ingin dipahami, tapi susah memahami pikiran orang lain, yang akhirnya berujung pada perpecahan. Kadang kita lupa buat melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain yang bersangkutan, bahwa mungkin kondisi dia memang sedang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, bahwa apa yang dia alami dalam masalah tersebut berbeda dengan apa yang kita alami. Akhirnya pun berujung pada kebencian dan caci maki.

Saya jadi teringat ucapan salah satu dosen saya di mata kuliah Filsafat--saya bukan mahasiswa Filsafat, tapi subjek yang saya ambil mempelajari mengenai falsafah manusia. Beliau mengatakan bahwa dalam lingkungan orang-orang Filsafat sering sekali terjadi perdebatan dalam memahami suatu peristiwa. Meski begitu, perbedaan pemahaman tersebut tidak membuat mereka saling membenci karena memang tidak ada yang benar dan yang salah dalam memahami suatu peristiwa, yang terpenting adalah bahwa kita paham dan yakin atas apa yang kita anggap benar dan mampu memberikan alasan yang masuk akal atas pikiran kita tersebut. Sayangnya, hal tersebut gak selalu bisa kita terapkan dalam hidup. Banyak dari kita, bahkan saya sendiri, masih berpikir bahwa orang lain harus selalu berpendapat sama dengan kita. Padahal ya setiap orang memiliki persepsinya masing-masing. Bahwa apa yang kita anggap objektif belum tentu objektif bagi orang lain.

Meski begitu, gak semua hal juga yang diawali dengan perbedaan selalu berujung pada kebencian. Contohnya saja acara Stand Up Comedy. Menurut saya acara tersebut merupakan salah satu jenis acara yang mampu membuat kita bisa melihat suatu hal dari sudut pandang lain untuk kemudian bisa kita tertawakan. Kadang ucapan-ucapan dari para komika--orang yang melakukan stand up comedy--membuat kita jadi lebih merefleksikan kejadian-kejadian yang mereka sentil, yang munkin pernah atau sedang terjadi di sekitar kita. Sebenarnya bahagia juga menertawakan kebodohan sendiri hahaha..

Jadi sebenernya apa yang ingin saya sampaikan? Bahwa sebenernya perbedaan dalam hidup itu merupakan hal yang lumrah. Semua orang pasti mempunyai persepsi dan sikap yang berbeda-beda dalam menanggapi suatu peristiwa. Bahwa perbedaan itu enggak perlu dipermasalahkan. Bahwa, ya , manusia itu memang hidup dengan pikiran mereka masing-masing. Kalaupun muncul perbedaan cara pandang dalam menanggapi masalah yang itu bersangkutan dengan orang lain, coba deh berdiskusi, ngobrol, srawungan, tentang hal-hal yang baiknya dilakukan bersama. Ambil jalan tengah yang paling baik, yang paling bisa dilakukan oleh kedua belah pihak. Kalaupun berujung pada kebuntuan, istirahat dulu dan pikirkan lagi ketika pikiran sedang jernih. Keputusan yang diambil ketika sedang marah itu gak baik lho, hehehe..

Tulisan ini bukan bermaksud menggurui. Saya pun menulis ini juga dalam rangka introspeksi dan mengubah diri menjadi lebih baik. Jika mungkin muncul ketidaksenangan dalam tulisan saya, saya mohon maaf. Sekian dari saya. Selamat menikmati hidup yang penuh rasa!


#MariMelongok: "Patah hati itu untuk buat kamu jadi lebih kuat."

Selasa, 12 Juli 2016




Orang yang mengalami patah hati akan berubah, begitu bunyi salah satu kalimat dalam salah satu subbab di novel Koala Kumal karya Raditya Dika. Perubahan itu bisa berupa apa saja, dari cara pandang dia terhadap pemulaian suatu hubungan selanjutnya dengan orang lain, terhadap cara dia menanggapi segala hubungan yang sedang dia jalani, bahkan keputusan-keputusan yang menuntut tanggung jawab pada perasaannya maupun orang lain. Dan hal tersebut merupakan salah satu tanda bahwa setiap orang berkembang dan berubah. Human is dinamic.


Ada cerita hari ini dari salah satu teman karib. Dia bercerita bahwa semenjak dia merasa dicampakan oleh salah satu "teman", dia tidak bisa dengan mudah membuka hatinya untuk orang lain lagi. Saya pun menimpali bahwa saya pernah merasakan hal yang sama, hanya saja dengan ksiah yang sedikit berbeda. Jujur, saya masih mengalami masalah tersebut. Menyedihkan memang.


Bisakah kita mengatakan bahwa sikap tersebut berlebihan? Ya, bisa saja. Tapi bukan berarti kita bisa mengatakan bahwa seseorang tersebut melebih-lebihkan segala hal yang dia rasakan dan alami. Saya yakin setiap orang memiliki cara untuk menyikapi segala masalah dalam hidupnya, dan bisa jadi itu cara dia untuk menghadapi masalahnya--termasuk saya. Hanya saja kita memang tidak boleh membelenggu diri kita terus-menerus dalam perasaan tersebut, bahwa kita juga harus kembali meyakinkan pada diri kita jika menutup hati terlalu lama bukanlah hal yang baik. Ada waktunya untuk kembali terbuka dengan apa pun yang terjadi dalam hidup, merasakan segala kesenangan maupun kesedihan yang terjadi dalam kejadian-kejadian yang ada. Saya juga akan berusaha.

Lalu apa hubungan antara patah hati dengan foto yang saya pakai? Saya menganalogikan patah hati seperti bunga yang mengering. Awalnya bunga tersebut cerah dan masih segar, sama seperti orang yang baru saja bertemu hal yang membuat hatinya berderu-deru. Lama-kelamaan dia mengering, sama seperti orang ketika patah hati dan sedang dalam proses mengobati perasaannya. Ketika mereka sudah merasa baikan, bisa saja mereka tetap seperti bunga yang kering, yang berarti mereka sudah baikan tetapi mengungkung diri mereka dengan rasa takut, atau kembali baru dengan menjadi bunga baru yang lebih segar.

Saya kutip salah satu kalimat dari film Koala Kumal yang baru saja tadi saya tonton,
"Patah hati itu untuk buat kamu jadi lebih kuat."
Selamat menikmati perasaan-perasaan dalam hidup!

throwback

Minggu, 24 Agustus 2014




I've never known before that the thing which is a simple one, always has its own special side. Sometimes, we would never realize it if we haven't through it before yet. We already realized when it was gone. And we want to throwback, to that time, when the every single time-laugh-tears-togetherness is just being a memory. Yes, itself.



Cerita Hari Ini

Jumat, 15 Agustus 2014


Aktivitas pelan-pelan seperti membelenggu manusia dalam dunianya.
Itu sepenggal kutipan yang tiba-tiba menclok di otak saya. Bukan, itu bukan tentang kritikan keras saya terhadap orang-orang yang penuh kegiatan karena saya sebenarnya merupakan salah satu dari sekian orang yang dibelenggu oleh aktivitas.

Berbicara tentang dibelenggu-aktivitas, saya punya cerita pagi ini, saat saya akan berangkat ke sekolah. Pagi hari ini, saya diantar sekolah oleh Amo--orang yang sudah bekerja di rumah kami selama hampir 14 tahun, dan sudah saya anggap sebagai keluarga. Bapak sedang tidak di rumah, ada pekerjaan di luar kota. Anak laki-laki Amo, Ipin, yang baru duduk di bangku sekolah dasar (SD), akan berangkat ke sekolah juga dengan mengendarai sepeda. Kebetulan sekolahnya dekat dengan rumah saya. Sebelum saya berangkat sekolah, saya senang menggoda Ipin. Saat saya akan menaiki motor, saya melihat di dahi sebelah kananya terdapat luka. Lalu saya bertanya, "Kamu luka to, Pin?"
Amo pun menjawab, "Kemarin nyelungsep di semak-semak."
Lalu kami pun berangkat sekolah.

Di jalan, saya bertanya lagi pada Amo kenapa bisa sampai nelungsep di semak-semak. Amo pun menjawab kalau kemarin saat akan pulang, mereka ingin menghindari kakek-kakek tua yang membawa rumput gajah untuk pakan sapi. Tapi setiap kali mereka belok ke kiri atau ke kanan, kakek tua itu selalu bergeser ke arah yang sama pula. Akibatnya, ban motor mereka tersaduk batu, dan jatuh di semak-semak dekat sawah. Kata Amo kejadian itu sudah terjadi seminggu yang lalu. Saya jadi mikir, apa yang saya lakukan selama seminggu ya sampai saya baru tahu kejadian itu hari ini, lalu saya ingat-ingat lagi kegiatan saya selama seminggu kemarin. Seminggu kemairn memang saya selalu pulang sore sih. Paling cepat saya pulang pukul 4 sore. Sampai rumah biasanya sudah pukul 5 atau setengah 6 kurang, dan pukul segitu Amo sudah pulang. Lalu saya berpikir, "Sebegitu sibuknya kah saya, sampai-sampai saya jadi kudet dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di rumah?" 


Sejak duduk di bangku SMA, saya memang cukup mengikuti banyak kegiatan, dan kegiatan-kegiatan itu memang sedikit menyita waktu istirahat maupun bermain saya dengan keluarga. Tapi di satu sisi memang ada kesenangan sendiri ketika saya sudah mulai mengurusi atau mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, dan belum pernah terpikirkan di benak saya mengenai ke-apatisan-saya di rumah sampai hari ini.


Entah kenapa hal itu sedikit mengusik saya. Saya tahu itu hal sepele dan mungkin belum tentu berguna jika dipikirkan. Tapi entah kenapa, menurut saya, hal itu harus sedikit dipikirkan. Karena jika tidak, kita bisa saja tidak mengenali keluarga kita lagi, tidak peka dengan lingkungan keluarga dan rumah kita, serta egois secara-tidak-sadar dengan lingkunagan kita. Padahal tujuan kita mengikuti kegiatan di sekolah mungkin untuk meningkatkan jiwa sosial kita. Tapi jatuhnya jiwa sosial kita di lingkungan keluarga jadi berkurang. Sedikit salah memang, tapi hal itu memang terasa sedikit dilematis; kamu punya tanggung jawab atas apa yang sudah kamu ikuti, tapi juga punya tanggung jawab di rumah sebagai anak. Pada akhiirnya, kita memang harus tetap mengatur porsi waktu untuk kegiatan yang kita ikuti dan porsi waktu untuk keluarga. Dan itu semua butuh belajar, tidak didapat secara instan. Yang harus kita lakukan adalah menikmati proses belajar itu.



H+4





Gak kepikiran bakal dapet kejutan kayak gini walaupun udah H+4, dan gak kumpul semua. Makasih banyak anak-anak PD. Sayang kalian :")

Cerita yang Tertunda

Halo!
Besok sudah lebaran. Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin :)

Hari terakhir bulan ramadhan di tahun ini. Semoga tahun depan bisa ketemu lagi, aamiin.

Jadi, aku mau cerita tentang sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Ini tentang host-fam-ku waktu aku lagi sister school di Aussie. Udah hampir genap satu tahun haha :"D

Rumah mereka emang gak terlalu besar, tapi juga enggak terlalu kecil. Ukurannya samalah sama kayak rumahku di sini. Tapi yang membuat aku senang tinggal di sana adalah kehangatan keluarga tersebut. Host-fam-ku ini, alhamdulillah, orang Indonesia; ibunya indonesia; ayahnya Australia. Dan ayahnya bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Mereka welcome banget sama aku. Tapi emang dasarnya aku pendiem dan pemalu kalo sama orang baru, jadinya gak terlalu banyak omong hehehe.

Ibunya host-ku ini seneng banget kalo ada orang Indonesia dateng ke rumahnya. Jadi, hari kedua aku tinggal di sana ada orang Indonesia berkunjung ke rumahnya. Mereka adalah buruh-buruh kapal pabrik tepung Segitiga Biru. Tapi mentang-mentang mereka buruh, jangan dibayangin tampilan mereka kayak buruh-buruh di film-film gitu. Tampilan mereka ya biasa aja. Malah bisa dibilang keren gitu pake gitu sweater (bayangin kakeknya Charlie yang ada di film Charlie and The Chocolate Factory).
Ibunya host-ku ini keliatan seneng banget, udah kayak ketemu sanak saudara sendiri gitu. Tapi aku tau kok rasanya tinggal di perantauan yang kultur budayanya jelas beda banget sama kita, dan ketika ketemu sama orang yang asalnya sama kayak kita dengan kultur budaya yang sama itu rasanya ngelebihin rasa seneng sama sesuatu.
Beliau ngobrol dengan asyiknya dan nada bicaranya bener-bener ngeliatin kalo beliau seneng. Aku juga seneng sih, karena bisa ketemu sama Indonesian people. Rumah juga jadi rame gitu. Waktu mereka udah pulang, ibunya host-ku cerita tentang mereka dan beliau bilang sesuatu yang itu bener-bener masih aku inget sampai sekarang, "Zaman sekarang kan jarang banget orang 'punya' mau bantu dan nyampur sama orang 'kecil' kayak mereka." Dan saat itu aku berpikir, beruntung banget aku dapet host-fam kayak mereka.

Ayahnya host-ku juga baik. Dia gak marah gitu waktu ada kejadian lolog yang aku perbuat gara-gara kecerobohanku. Dia cuma bilang ke aku kalo mau pake keran bukanya gak usah lebar-lebar, dan aku ingat, aku cuma cengengesan waktu itu hehe. 

Aku setuju sih kalo kita sebagai orang Indonesia seharusnya mengikuti kultur orang barat, the positive one certainly. Misal ya kayak sifat pekerja keras mereka. Kalo ditelah lebih jauh sih sifat pekerja keras mereka tumbuh ya karena keadaan. Biaya hidup mereka di sana tinggi banget. Bahkan pekerja bangunan kebanyakan, malah kayaknya semuanya, itu kerja sendiri. They don't have partners who help them to build house together. Ayahnya host-ku pernah cerita waktu itu, tukang ledeng di sana satu jamnya dapet bayaran $60 Aus. Kalo dijadiin rupiah ya kira-kira 600ribu lebih lah. Bayangin aja kalo kamu kerja di sana dan pulang ke Indonesia tiap bulan, mungkin kamu udah bisa menenuhi kebutuhanmu di Indonesia lebih dari cukup.
Mereka juga orang-orang yang corious. Rasa pingin tau mereka mengenai suatu hal itu tinggi. Kayak semisal ketika kita ngomong bahasa Indonesia dan mereka belum tau artinya dan maksudnya apa. They ask it, remember it and try to use that word everytime they talk in bahasa. Sempat ada rasa haru ketika bahasa ibu kita dipelajari sama orang asing :')
Mereka juga mandiri banget. Ayahnya host-ku cerita dia udah keluar dari rumah sejak dia umur 15 tahun itu dan itu lazim di sana. Bahkan anak-anak remaja umur 15 tahun ke atas pasti udah kerja part-time, dan menurutku itu 'wow' banget.
Dan sejujurnya masih banyak yang aku mau ceritain dan aku kagumin dari mereka. Tapi kayaknya sekian dulu deh. Jadi, selamat hari raya Idul Fitri 1435 H!




Beda

Senin, 11 Agustus 2014




Perbedaan sebenernya apa to?

perbedaanper.be.da.an
[n] (1) beda; selisih: perpecahan terjadi krn -- paham; (2) perihal yg berbeda; perihal yg membuat berbeda: -- perlakuan thd tamu menyalahi aturan rumah penginapan itu


Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/perbedaan#ixzz3A86Y6kRP

Jadi saya mau membicarakan mengenai perbedaan. Nah, di kbbi dituliskan bahwa salah satu arti dari perbedaan itu perihal yang berbeda. Menurut saya, perihal yang berbeda ini bisa mengakibatkan 2 hal: perpecahan sama motivasi. Semua orang pasti udah tau kalo perbedaan itu bisa membuat perpecahan dan itu udah umum banget. Tapi kalo motivasi, mungkin gak semua orang pernah mikir sampai situ. Mungkin lho ya, mungkin.

Kenapa saya bisa mikir kalo perbedaan itu bisa dibuat motivasi? Karena saya pikir perbedaan itu bisa memotivasi kita buat jadi lebih baik. Jadi saya punya cerita dimana saya ikut ekstrakulikuler (ekskul) di sekolah. Dari ekskul itu kita semacam jadi punya relasi gitu sama siswa sekolah lain yang ikut ekskul yang sama di sekolahnya, karena guru kita yang sama. Murid di sekolah saya sama sekolah itu jelas banget perbedaan. Gak cuma dari muridnya sih, kualitas sekolahnya juga beda. I mean, kualitas sekolah mereka emang lebih unggul dibanding sekolah saya. Nah dari sini perbedaan itu udah keliatan.

Kadang, beberapa kali, saya sama temen saya yang di ekskul itu emang lebih tua dibanding anggota lainnya ngomong, "Itu lho anak-anaknya pada rajin, pada apa blablabla.." Terus anggota yang lain itu jawab, "Ya gak usah dibanding-bandingin gitu, mbak."
OK, untuk mengklarifikasi, maksud kami dalam pembicaraan itu kami gak maksud banding-bandingin. Tapi jujur, itu emang terkesan banding-bandingin sih hehehe. Padahal sebenernya maksud kami di situ buat memotivasi mereka. Karena kami tahu, murid sekolah kami gak bisa dibandingin sama murid sekolah mereka yang anak-anaknya emang udah kayak 'wow'. Pelatih kami pun juga ngomong hal yang sama, "Ngapain dibanding-bandingin, kenyataannya aja udah beda."

Jadi menurut saya, perbedaan itu memang perlu ada. Tanpa perbedaan hidup tidak akan terasa manis-guruh-asam-nya. Tinggal bagaimana kita menyikapi perbedaan itu sendiri.