Rectoverso
Minggu, 02 Juni 2013
Sempat terlintaskah dipikiran bahwa mugkin kita lebih beruntung dibandingkan orang lain? Pasti pernah. Dan, biasanya, seketika akan langsung dilupakan. Karena jika dipikir-pikir itu hanyalah hal-hal kecil mengenai hidup yang pada kenyataannya sangat berpengaruh. Tanpa disadari.
Sedikit cerita. Kemarin, saya mendapat sms dari teman saya. Isinya mungkin sederhana, tetapi sedikit membuat saya menerawang akan kehidupan saya dan keluarga saya yang masih, alhamdulillah, masih utuh. Jikalau saya ada di posisinya sekarang, mungkin saya tidak akan sekuat dia. Dia begitu hebat, masih dapat tertawa di tengah hiruk pikuk kesedihannya. Terkadang, saya takut menyentil bagian-bagian sensitif dari kehidupannya. Takut badai seketika akan meruntuhkan tawanya.
Dulu, saya pikir, hidup ini tetap akan sama. Berjalan beriringan tanpa pernah ada menepuk pundak. Tapi semakin melangkah, semakin saya menerawang sekitar saya, saya mulai belajar, bahwa ternyata Tuhan menciptakan kita untuk belajar dan mempertanggungjawabkan apa yang kita dapatkan itu. Tuhan memperbolehkan kita berdiri dan melangkah di tengah-tengah masyarakat untuk bercermin, bahwa hidup kita mungkin lebih-lebih-lebih beruntung dibandingkan orang lain. Tukik yang harus bertahan di tengah laut yang penuh predator pun tetap bersyukur dengan berenang mempertahankan hidupnya sampai ia dewasa dan melahirkan tukik-tukik lainnya.
Label:
abal-abal
,
Coretan Saya
,
Curcol
,
Lain-Lain
,
pemikiran.
Rabu, 29 Mei 2013
(Taken by me)
Tuhan mempertemukan laut dan daratan untuk saling melengkapi. Dan dengan pertemuan itu mereka menjadi satu harmoni yang selaras, memahat rupa bumi dengan senandung ramah. Walaupun laut sering mencumbu daratan dan membuatnya semakin menipis, tapi daratan tetap menerima. Namun, keduanya tetap mengingatkan bahwa ada waktunya mereka berhenti menyakiti satu sama lainnya. Seperti matahari yang selalu ingat untuk membagi sedikit kekuatannya kepada bulan dengan memantulkan sinarnya. Sungguh, bagaimana kekuatan itu memahat segalanya melebur menjadi satu untuk saling menerima satu dengan yang lainnya.
Minggu, 26 Mei 2013
Be Original
“I never set out to be weird. It was always other people who called me weird.”
― Frank Zappa (Via: Goodreads)
― Frank Zappa (Via: Goodreads)
Label:
abal-abal
,
lain-lain..
,
Photo-works
,
sehari-hari
Rabu, 22 Mei 2013
Percik Hujan
by
Annisa Nur Harwiningtyas.
Nikon D3100.
Shutter: 1/4000. ISO 100.
NB: Waktu jepret ini belum ngerti sama sekali sama yang namanya ISO atau apapun itu nama dan jenisnya, jadi, ya ISO-nya cuma 100. Karena ISO-nya cuma 100 hasilnya gelap dan harus di-brightness biar kelihatan percikannya.
Label:
abal-abal.
,
kesalahan
,
Photo-works
,
sehari-hari
Senin, 20 Mei 2013
Aku adalah seorang kapiten. Berseragam resmi negara dengan pedang panjang yang menjulur dari sela-sela jemariku. Mengayunkan pedang sesuai ritme tapak sepatu yang berderap membentuk barisan, prok-prok-prok. Mencoba melawan, membela negara yang sedang menderu melawan penjajah. Menahan perih mendengar jeritan massa yang menyeru tolong.
Sayang, zaman berganti. Orang-orang mulai lupa. Anak-anak mulai hilang dari batas kota. Dan penyeru-penyeru kemerdekaan itu kini telah tiada. Kota itu mulai tidak bernyawa.
Sekarang, apakah aku masih disebut sebagai seorang kapiten?
Sayang, zaman berganti. Orang-orang mulai lupa. Anak-anak mulai hilang dari batas kota. Dan penyeru-penyeru kemerdekaan itu kini telah tiada. Kota itu mulai tidak bernyawa.
Sekarang, apakah aku masih disebut sebagai seorang kapiten?
(20-05-13)
Annisa Nur Harwiningtyas
Label:
abal-abal
,
Coretan Saya
,
lain-lain.
,
pemikiran
Jumat, 17 Mei 2013
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
