Pages

Find Me on Facebook, Twitter, Hello, or Tumblr.

Sabtu, 10 September 2011

Actually, this post is nothing. But, I just wanna share wherever you can find me, hehe. And, here:

Elegi Cinta (Puisi)


Ketika perih kembali bersua, aku kembali termenung.
Rutukan-rutukan sepi pembawa itu kembali datang,
membawa tiap-tiap sakit yang aku damba setiap malamnya
Hanya aku dan Ia yang selalu tahu apa yang setiap detiknya aku rasakan.
Setiap detik, ketika perih itu selalu menyergap.

Nyeri hatiku membawa semua sampai di sini.
Di sini. Ketika aku harus berjuang membuangnya, mengkristalkannya, memecahkannya
menjadi serpihan halus yang selalu siap aku terbangkan.
Sayang, ia kembali. Menjadi luka lama. Yang perihnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya.
Ketika semua berawal. Menjadi setetes embun yang terus menggantung pada langit-langit hatiku.

Elegi Cinta (Surat)

Maaf karena aku telah lancang mengirimimu surat. Tapi, aku hanya ingin menyampaikan suatu hal yang selalu aku pendam selama berbulan-bulan ini.

Aku tahu, mungkin suratku ini tidak berguna untukmu; bukan hal penting yang harus dibaca. Tapi lewat surat ini aku hanya ingin menyampaikan satu hal yang mungkin juga pernah kamu rasakan—bahkan setiap anak remaja rasakan. Menyukai seseorang.

Kamu tidak harus tahu siapa aku, karena aku hanya seseorang yang memendam perasaan suka kepadamu. Hanya itu. Dan mungkin itu tidak berguna untukmu. Untuk hidupmu. Untuk duniamu. Tapi itu berguna untukku, karena hanya dengan surat ini aku bisa menyatakan setiap rasa yang aku rasakan selama sepuluha bulan ini kepadamu.

Aku tidak tahu bagaimana menceritakan awal kisah ini kepadamu—ujung pun aku juga tidak bisa, karena aku terlalu terombang-ambing oleh perasaanku. Hanya rasa sakit yang aku rasakan selama sepuluh bulan itu. Tidak ada rasa senang, gembira, dan tawa. Bahkan, untuk merasakan itu semua, rasanya hatiku tidak mampu. Entah, aku juga tidak tahu. Itu terlalu rumit untuk kujabarkan.

Terakhir, tidak ada lagi yang ingin aku ceritakan. Karena jika semua rasaku keceritakan mungkin kamu akan bosan untuk membaca. Akhir kata, terima kasih karena telah mau membaca suratku yang tidak jelas asal-usulnya. Terima kasih atas semua perasaan ini, perasaan yang tidak dapat aku jelaskan bagaimana rasanya, semanis atau pun seperih apapun rasanya. Terima kasih telah mengisi tiap hariku, meski sampai hari ini bayangmu tidak dapat kugapai juga. Namun terima kasih juga, karena kamu telah memperbolehkanku meraih bayangmu walau itu tidak pernah lebih dari sebatas pertemanan. Terima kasih.

Dari: Seseorang itu.

(Ditemani malam dingin dengan sejuta sesak yang tertahan.)

Selasa, 06 September 2011

Aku ingin berhenti dari rasa ini. Rasa sesak ketika aku harus menyadari bahwa kamu telah dengan orang yang kamu sayang. Rasa sesal ketika aku mengingat tahun-tahun lalu yang menyakitkan. Rasa yang sudah tidak bisa aku gambarkan bagaimana rasanya. Rasa yang membuatku berada dalam lingkaran yang sama seperti tahun sebelumnya.

Aku lelah. Ya, aku lelah, selalu berdiri di tempat yang sama, masih dengan rasa yang sama, dan selalu dengan rasa yang sama. Aku lelah, mengapa aku harus seperti ini? Ketika pada realita yang telah berjalan kamu harus dengannya. Mengapa aku harus lelah dengan rasa sesal yang aku buat sendiri? Tolong, aku meminta pada diriku sendiri untuk berhenti dengan ini semua. Dengan segala rasa yang mengalir ini. Aku tolong berhenti!

Aku selalu tahu, bahkan sangat-sangat tahu, bahwa ini semua salahku. Aku yang selalu membuat rasa itu bertambah rumit setiap harinya. Jangan katakan aku sudah membahas itu hampir beribu-ribu kali! Karena aku sudah tahu akan itu; aku hampir selalu membahas itu setiap detiknya. Oleh karena itu aku ingin lepas dari ini semua. Tidak sulit? Oh, ya! Ini menyiksa kau tau? Tapi, mungkin ini memang benar, aku yang salah; aku tidak pernah bisa melepasmu dengan ikhlas. Tidak, karena aku masih menyukaimu. Mengerti? Hanya itu. Aku tau itu hal sepele, bahkan mungkin lelaki bisa menyelesaikannya dengan mencari penggantinya. (Maaf jika tersinggung, aku tidak bemaksud) Tapi, harus kau ketahui, itu tidak semudah bagiku, karena aku telah menyesal akan semua yang aku perbuat. Aku akui, kamu lelaki terlama yang membuatku seperti ini, membuatku se-menyesal ini, membuatku seakan hanya kamu yang bisa menghapus luka ini.

Terima kasih, aku akan mencoba melangkah dari lingkaran ini. Mencoba mengkristalkan tiap memori yang kamu berikan padaku lalumembuangnya. Selesai bukan? Ya, itu berakhir. Dan, aku akan mencobanya; melepasmua dengan rasa ikhlas yang memang harus aku punya. Terima kasih akan akhir yang memang harus ada dalam perasaanku untukmu. Terima kasih, pada diriku sendiri.

Elegi Cinta. (Dalam Memori)

Sabtu, 03 September 2011


Aku masih melihatmu dari kejauhan, ketika kamu masih bersama mereka; teman-temanmu. Dan aku hanya dapat menghela nafas berat. Sebegitu jauhkah aku mengharapkanmu? Sampai-sampai semua harus ku lakukan dari kejauhan.

Kamu itu seperti bayangan; dapat dilihat dan disentuh. Namun, tidak dapat ku miliki.

" Ada yang punya pacar baru nih!" seruan itu membuatku sadar, disetiap cinta selalu ada hati yang tersakiti.Tidak seperti halnya dalam cerita dongeng yang dulu selalu ibuku ceritakan sewaktu aku kecil. Tidak seperti halnya Cinderella yang pada akhirnya dapat memiliki pangeran yang ia cintai.

" PJ-nya nih." rasa sakit itu segera menyergapku.

 —


" Kamu ngapain masih suka sama dia? Toh, dia udah sama yang lain." aku—hampir—selalu mengelak pernyataan itu. Pernyataan dimana aku akan selalu mengingatmu. Mengingat tiap memori yang masih dapat aku putar semampu yang aku bisa. Tapi aku segera sadar, bahwa itu tidak lebih dari sekedar memori dimana semua belum seperti sekarang. Saat sepi belum menggerogoti sampai ke ulu hatiku.

Jika aku bisa, aku ingin kembali mengulang memori itu di kehidupan nyataku.

Perlahan, aku mulai men-scroll mouse-ku, melihat apa saja yang ditulis teman-teman di jejaring sosial ini. Haha, ya, mereka sangat lucu.

Tapi tiba-tiba aku menyesali pilihanku untuk menghibur diri dengan cara ini. Aku menyesal, karena aku harus menemukan tulisan yang mengatakan bahwa kamu sudah dekat dengan perempuan lain setelah putus dengan pacar lamamu beberapa bulan yang lalu.

Mengapa aku harus merasakan sakit itu lagi?

Malam ini aku kembali hancur. Meratap pada setiap rasa yang menjejak, menyesak, meminta untuk keluar.


" Aku sempet gak nyangka lho kamu pernah suka sama dia. Aku kira kamu suka sama temennya."

" Hahaha, iya." aku selalu hanya bisa tertawa. Meski terkadang itu terasa pahit. Sepahit ketika aku menyadari bahwa setelah sepuluh bulan aku masih bertahan karenamu. Hanya karena kamu yang tidak lebih dari seonggok daging dan kumpulan darah yang entah telah membawa hatiku mengarungi beribu samudra di dalam khayal—yang terkadang menghayutkan lebih dari kehidupan nyata yang harus dijalani.

Kamu tahu? Aku masih di sini. Bertahan, hanya untuk kamu. Seorang.

Tapi, pada akhirnya juga, aku kembali harus mendengar, bahwa kamu sudah menjalin hubungan lagi dengan perempuan yang kamu taksir itu, yang memang harus aku akui memang manis. Cocok denganmu.


Selama aku masih kuat, aku ingin mencintai dengan sederhana. Se-sederhana ketika aku sedang melihatmu dari jauh. Se-sederhana ketika aku sedang melihat siluetmu yang tak bisa ku gapai. Se-sederhana ketika kamu sedang bersama dia yang begitu kamu sayangi keberadaannya. Hanya se-sedehana itu. (2011, Mei)

Aku sadar, cintamu takkan pernah menjadi milikku. Bayangmu tak pernah menyambut diriku. Namun, bagiku itu sudah cukup. (Senja. Maharani Ciptaningrum)

Untuk kesekian kalinya aku tersadar, kau maya. Semu. Ada tapi tak nyata. Ada tapi tak tersentuh. Aku hanya bisa melihatmu dari satu sisi yang kautunjukkan. (Aku yang Salah. Ririn Riantini)

 Aku sadar, seberapa lama pun aku menunggumu, tidak akan pernah barang secuil hatimu yang akan kau berikan padaku. (Cerpen. Shofi Yasmina)